Antara Gareng dan Garengpung (Belajar dari Pengetahuan dan Kearifan Lokal)

Antara Gareng dan Garengpung (Belajar dari Pengetahuan dan Kearifan Lokal)

Antara Gareng dan Garengpung

gareng

Gareng, silakan klik untuk melacak sumber gambar

Gareng atau Nala Gareng dalam dunia pewayangan adalah anak angkat tertua dari Semar. Ki Lurah Semar beserta Gareng, Petruk dan Bagong merupakan empat sekawan punakawan pengabdi Pandawa lambang kebenaran. Penggambaran wujud fisik Gareng berkaki pincang sebagai kiasan sifat Gareng sebagai abdi atau kawula kebenaran yang selalu bertindak hati-hati agar tidak mudah kejeglong (terperosok) sehingga perlu mempertimbangkan berbagai aspek yang bermuara pada ketenteraman tatanan. Gareng juga menyandang cacat fisik lain yaitu tangan yang ciker atau patah sebagai kiasan sifat pengabdi kebenaran yang tidak suka mengambil hak orang lain baik hak secara fisik maupun hak yang bersifat psikis-spiritual.

Menurut Wikipedia garengpung atau uir-uir (Jawa), cengeret (Sunda)  adalah nama lain dari tonggeret. Tonggeret meliputi segala jenis serangga anggota subordo Cicadomorpha, ordo Hemiptera. Kelompok serangga ini hidup di daerah beriklim sedang hingga tropis, memproduksi suara nyaring dari pepohonan dan berlangsung lama. Perpaduan suara yang menghasilkan simfoni akustik alam yang sangat merdu.

Gareng dan garengpung menempatkan diri sebagai sesama abdi atau kawula kebenaran yang berasal dari Sang Maha Benar. Keduanya memiliki kesamaan tugas menyuarakan kebenaran sebagai pengingat bagi semua titah baik kawula alit maupun para satria pamong praja (seseorang/lembaga yang mendapat mandat menata dan mengasuh/momong komunitas). Dalam bertindak menyuarakan kebenaran keduanya melandasinya dengan prinsip kehati-hatian dan tidak mengambil hak orang lain.

Gareng dalam Pengetahuan dan Kearifan lokal

Gareng berperan sebagai abdi/kawula dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana, meski nama tersebut tidak ditemukan dalam naskah aslinya, karena tokoh ini asli ciptaan pujangga Nusantara. Sangat menyadari sifat dasar manusia yang tidak suka ditegur secara langsung apalagi oleh atasannya, tokoh punakawan/panakawan ini dimunculkan.

Kehadiran abdi/batur diharapkan tidak ‘mengancam’ kedudukan para pemuka. Penyampaian dengan gaya bahasa seadanya, tata krama khas abdi seolah-olah asal matur, didengar syukur diabaikanpun tidak masalah, suara kebenaran dikumandangkan.

Berhadapan dengan banyak pihak, kemasan pesanpun disampaikan secara halus dalam bentuk sanepan/kiasan dan perumpamaan. Kaki pincang, tangan ciker sebagai cacat fisik (hasil olah rasa pujangga besar) digunakan untuk membungkus kebesaran jiwa empan papan, kehati-hatian, tidak menjadi batu sandungan, ketulusan dengan tidak mengambil hak orang lain. Kemampuan menangkap pesan kiasan sangat dipengaruhi oleh karakter dan kepribadian penerima pesan. Pesan dalam sanepan yang sama bagi penerima tertentu terdengar seperti guyonan namun bagi penerima dengan kepekaan dan kelantipan tertentu terdengar sebagai teguran ataupun pesan Ilahi yang harus dihormati.

Efektivitas penyampaian pesan dipengaruhi oleh figur pembawa pesan, legimitasi dilekatkan pada tokoh Gareng dengan atribut putra seorang pendeta, karena ‘kenakalannya’ mendapat kutukan dan dibebaskan oleh Semar. Putra seorang pendeta membawa kharisma tersendiri, pertobatannya menambah nilai sekaligus mengesahkan kelebihan tokoh Semar ayah angkatnya.

Hanya pribadi/masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kearifan luar biasa yang mampu menghadirkan tokoh lokal sebagai pembawa pesan kebenaran. Kearifan lokal berharga untuk pembekalan pemimpin dan kerukunan hidup bermasyarakat. Kearifan lokal yang tidak lekang oleh waktu.

Garengpung dalam Pengetahuan dan Kearifan lokal

Pada akhir musim penghujan dan memasuki musim kemarau yang biasa disebut dengan mareng, serangga ini keluar dari tanah, bermetamorfose menjadi serangga sempurna dan memasuki masa akil balik. Untuk memikat serangga betina, garengpung jantan berparade suara, memamerkan kehebatan suaranya sebagai pemikat. Pengetahuan yang lahir dari pengamatan yang teliti dalam rentang waktu yang sangat panjang (ilmu titen).

Pengenalan akan karakter garengpung digunakan oleh para leluhur sebagai penanda musim. Rentang waktu 1-25 Maret dikenal sebagai mangsa kasanga (ke 9) atau Jita, mangsa rendheng–pangarep-arep. Sebagai candra penciri adalah wedharing wacånå mulyå (“munculnya suara-suara mulia” yaitu beberapa hewan mulai bersuara untuk memikat lawan jenis). Tanda-tanda alam sebagai tuntunan bagi petani adalah padi berbunga, jangkrik mulai muncul, tonggeret dan gangsir mulai bersuara, banjir sisa masih mungkin muncul, bunga glagah berguguran.

Pranatamangsa merupakan kekayaan kearifan lokal, membaca dan memaknai tanda-tanda alam dan menjadikannya sebagai ketentuan/tuntunan/pedoman aktivitas yang bergantung pada kondisi alam seperti kegiatan bertani secara alami. Ketentuan tersebut bersifat lokal/regional dan temporal karena sangat dipengaruhi oleh kosmografi dan klimatologi setempat. Hampir setiap daerah memiliki semacam pranatamangsa ini, Bali yang kental dengan budaya dan pertanian memiliki Kerta Masa, etnik Jerman mengenal Bauernkalendar atau “penanggalan untuk petani”, Jepang juga menganut tanda-tanda alam untuk aktivitasnya. Pengetahuan dan kearifan lokal yang sangat membantu petani yang memaknai kegiatan bertani adalah menari bersama alam dalam tarian ibadah pemujaan syukur.

Belajar dari dan kepada Gareng – garengpung tentang pengetahuan dan kearifan. Adakah kita menyuarakan suara gareng-garengpung di tengah komunitas ataukah kita mendengar lalu mendengarkan suara gareng-garengpung di sekitar kita?

Tulisan ini dipublikasikan di Alam, Seri PKL dan tag , , , , , . Tandai permalink.

11 Balasan ke Antara Gareng dan Garengpung (Belajar dari Pengetahuan dan Kearifan Lokal)

  1. Ping balik: Hijau Arga Garbawasa-ku | RyNaRi

  2. gareng berkata:

    jadi inget masa kecil setiap pagi klo musim gareng(ddditempt saya ga pake pung tapi kung) pasti keladang mencari gareng yang bunyi,

    Kekayaan alam di setiap daerah ya, main ke ladang bagian dari berguru pengalaman. salam

  3. Bams Triwoko berkata:

    Sudah lama tidak mendengar suara garengpung… :(
    Mesti banyak belajar kpd bu Prih ttg filosofi kearifan lokal.
    Matur nuwun… :)

    Matur nuwun karawuhan priyagung Yogyakarta
    Kami pembelajar baru pak Bams, Yogya pusatnya filosofi kearifan lokal.
    Salam

  4. Orin berkata:

    Udah lama sekali ga denger suara tongeret Bu :(

    Lingkungan tinggal neng Orin cukup jauh dari pepohonan dan kebun ya. Kami sejak awal Maret setiap hari disuguhi simfoni alam tonggeret ini. Salam

  5. Ping balik: Rukem, Juminten, Sawo keju dan Kecapi | RyNaRi

  6. Wong Cilik berkata:

    punokawan ini dulu yang sering saya tunggu-tunggu kalau ada pementasan wayang kulit, soalnya banyak petuah maupun refleksi keadaan sosial yang di sampaikan dengan cara guyonan … :D

    Ya Mas kisah gara-gara yang sangat menyenangkan, refeksi sosial yang mampu membuat kita mentertawakan diri kita sendiri. Salam

  7. ooh saya baru ngeh kalau Gareng itu kakinya ternyata pincang ya, Bu Prih..dan ternyata tangannya juga. padahal waktu kecil saya sering melihat gambar gareng ini. Suka ngumpulin dari kartu wayang-wayangan (Jawa) yang juga jual di pasar-pasar di kampung saya..

    Pincang sebagai sarana kehati-hatian ya Jeng Ade. Sama koq Jeng, amatan saya juga sangat terbatas.

  8. Ping balik: Pesona Garengpung | RyNaRi

  9. Mechta berkata:

    suara khas garengpung di sore hari ini selalu membawa kenangan indah masa kecil kami.. baik di rumah Salatiga maupun rumah eyang di Karanganyar Solo… sekarang jaraaaang banget saya dengar suara uiiiir…uiiiiir… uiiiir… nan penuh kenangan itu.. :(

    Loh Jeng, eyang pidalem di Karanganyar ···· koq satu asal ya jangan-jangan malah nunggal brayat ·warga lereng Lawu····
    iya Jeng simfoni uir ····uir···· sangat khas menyongsong mangsa mareng. Salam

    • Mechta berkata:

      Inggih bu, swargi bapak asli Desa Sedayu.. ingkang asli Salatiga ibu dalem… :)

      Matur nuwun Jeng, kita dipersatukan oleh 3 gunung, G Lawu alias Karanganyar, G Merbabu sesama Salatiga dan G Salak oleh kebun Bogor. Salam

  10. Evi berkata:

    Wah pengetahuan lengkap tentang Gareng. YAng dari wayang plus filosofinya dan gareng yg tonggeret yg meramaikan malam2kita. Duh sayangnya ditempatku sekarang tak pernah lagi terdengar bunyi gareng mbak Prih..

    Kami sedang menikmati simfoni alam gratis Uni Evi, seru sekali dari pagi hingga pagi kembali uir …uir..uir…
    Karena Uni tinggal di tengah kota ya sehingga jauh dari pepohonan rumah tonggeret, yap kami kirim ceritanya saja dulu …

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s