‘Ngrowot’ dan Kedaulatan Pangan (Sumbangan dari Kearifan Budaya Lokal)

Ngrowot’ dan Kedaulatan Pangan
(Sumbangan dari Kearifan Budaya Lokal)

Pengantar:
Peningkatan populasi manusia mengandung konsekuensi logis pada tantangan pemenuhan kecukupan kebutuhan pangan. Perubahan iklim dan pemanasan global mempengaruhi produksi pangan dan potensial mengancam kecukupan pangan. Selain itu, krisis energi bahan bakar minyak, mendorong manusia mencari alternatif sumber energi lain, salah satunya adalah energi bersumber produk pertanian (Agrofuel). Dalam pelaksanaannya sering terjadi benturan kepentingan antara pemenuhan kebutuhan pangan dan sumber energi alternatif tersebut, terutama pada masyarakat yang menumpukan sumber pangan pada macam pangan yang terbatas. Budaya ‘ngrowot’ yang banyak dilakukan oleh para kasepuhan (adiyuswa) menyiratkan kearifan menyikapi ketergantungan sumber pangan dan menarik untuk dikaji keterkaitannya dengan program ketahanan pangan yang pada tataran kemandirian berkenaan dengan aspek kedaulatan pangan.

Ngrowot’, Kearifan Budaya Lokal
Ngrowot adalah tindakan mengkonsumsi krowotan, yaitu pala kependhem misalnya ketela dan ubi jalar. Ada juga yang mengartikan ngrowot dengan hanya mengkonsumsi ubi-ubian dan buah-buahan, namun beberapa orang menyebut perilaku mengkonsumsi buah-buahan dengan istilah ‘ngalong’ (mengingatkan kita pada perilaku kalong yang makan buah-buahan). Pendapat lain menyatakan ngrowot berarti hanya makan ketela, ubi jalar, talas, uwi, ganyong, maupun garut. Dalam artian luas ngrowot bermakna menumpukan sumber tenaga dari sumber karbohidrat lokal selain beras yang istilah kerennya diversifikasi pangan. Hal ini menunjukkan kearifan budaya lokal, leluhur kita telah menerapkan diversifikasi pangan bahkan sebelum istilah ini marak didengungkan.

Budaya ngrowot meniadakan/mengurangi ketergantungan pada beras yang membutuhkan infra struktur mahal. Berarti juga pendayagunaan sumberdaya lokal pekarangan yang bersifat tahan naungan, tegalan dengan input rendah, dan bertujuan memenuhi kecukupan gizi dengan swadaya lokal.
Selain makna harafiah dari pola konsumsi ngrowot, didalamnya tergantung makna filosofis yang bersifat fundamental. Makna kebersahajaan, mengoptimalkan potensi lokal yang ada, sebagai ungkapan keprihatinan, ‘lantaran’/laku untuk menata hati menggapai cita-cita yang lebih hakiki maupun pernyataan manusia sebagai bagian dari keutuhan alam ciptaan Tuhan.

Krisis Pangan: Pangan VS Energi
Di Indonesia ancaman kelaparan dan kekurangan gizi pada balita yang kerap ditayangkan di TV ataupun berita koran, membuat kita terhenyak. Indonesia yang terkenal gemah ripah loh jinawi tak luput dari masalah kecukupan pangan. Bila saat ini Indonesia berada pada kondisi rawan pangan, bukan semata karena tidak cukupnya pangan tetapi lebih karena pangannya tergantung dari pihak lain. Makanan utama masyarakat Indonesia bertumpu pada nasi, persepsi masyarakat, belum makan kalau belum makan nasi. Bahkan lebih mencengangkan konsumsi masyarakat terhadap mie instant meningkat terus, ibu-ibu menjadi kewalahan terhadap peningkatan kesukaan putra-putrinya melahap penganan ini. Muncul juga gejala konsumsi mie instant di pedesaan lebih tinggi katimbang di daerah perkotaan, alasan kepraktisan menjadi daya pikat utamanya. Bahan baku mie berasal dari impor, bahkan fakta impor beras kitapun meningkat dari tahun ke tahun.

Semakin menipisnya cadangan minyak bumi menyebabkan krisis energi bahan bakar minyak, mendorong manusia mencari alternatif sumber energi lain, salah satunya adalah energi bersumber produk pertanian (Agrofuel). Berbagai alternatif sumber energi dikembangkan misalnya sumber biodiesel dari kelapa sawit hingga penggalakan budidaya jarak,yang konon pada masa penjajahan Jepangpun menjadi sumber penerangan masyarakat kita. Sumber energi lain adalah produksi bioetanol dari tebu, jagung, singkong, maupun sagu dimana ketiga sumber terakhir menjadi bahan makan pokok bagi sebagian masyarakat. Dalam pelaksanaannya sering terjadi benturan kepentingan antara pemenuhan kebutuhan pangan dan sumber energi alternatif tersebut, terutama pada masyarakat yang menumpukan sumber pangan pada macam pangan yang terbatas. Contohnya negara Kuba membuat energi dari tebu, semangat Amerika menggunakan jagung sebagai sumber energi menuai protes dengan meningkatnya harga tortilla, makanan pokok Meksiko yang berbahan baku jagung. Negara China, dengan tegas melarang penggunaan jagung sebagai sumber energi, dengan lebih mengutamakan kepentingan jagung sebagai makanan pokok manusia dan mencoba mengembangkan alternatife sumber energi yang lain.

Ngrowot dan Kedaulatan  Pangan
Kedaulatan pangan adalah hak rakyat untuk menentukan dan mengatur sendiri tentang pangan dan pertaniannya. Hal ini bermanfaat untuk melindungi dan mengatur produksi pertanian domestik, mencakup juga pengaturan masalah perdagangan yang semuanya bermuara pada pencapaian tujuan pembangunan yang berkesinambungan. Kedaulatan pangan juga menentukan sejauh mana kewenangan rakyat untuk memenuhi sendiri/swasembada kebutuhan pangannya. Hal ini tidak berarti kedaulatan pangan menentang ataupun anti impor, namun lebih pada bagaimana masyarakat menghargai serta memprioritaskan produksi pangan sendiri yang berkelanjutan, yang aman terhadap kesehatan serta ramah lingkungan.    Kedaulatan pangan juga mengandung aspek keadilan yang berarti harga pangan tidak merugikan petani namun disisi lain masih terjangkau oleh pembeli. Penetapan status kecukupan pangan berdasarkan suatu jenis tertentu menunjukkan adanya gejala pemasungan kedaulatan/penyerahan kebebasan/kemerdekaan menentukan pola makan termasuk penetapan jenis yang dimakan. Dan pada gilirannya akan membahayakan status kecukupan pangan masyarakat. Dari aspek ini bisa dikatakan budaya ngrowot menjadi salah satu cara mencapai kedaulatan pangan.

Mengambil esensi ngrowot sebagai cara diversifikasi pangan, sumbangan energi setara dengan 100 g nasi dapat digantikan dengan 100 g singkong atau 50 g bihun atau 50 g jagung atau 200 g kentang atau 50 g sagu ataupun 150 g ubi. Ubi-ubian kaya serat akan membantu proses pencernaan, beberapa ubi berwarna misalnya ubi kuning mengandung beta karoten maupun ubi ungu disinyalir mempunyai kemampuan zat antioksidan. Memang perlu diwaspadai kandungan asam sianida pada ubi kayu, namun dengan pencucian, perendaman maupun pemilihan jenis,  kelemahan  ini dapat diatasi. Selain itu beberapa ubi berpotensi menghasilkan banyak gas selama proses pencernaan sehingga berpotensi menyebabkan kembung, perut terasa sebah dll.

Ngrowot ala Kini
Untuk melestarikan budaya ngrowot tentunya perlu dilakukan modifikasi bentuk sehingga lebih dekat dengan kekinian. Perlu dipikirkan bentuk ngrowot yang lebih praktis misalnya dengan cara ubi terlebih dulu dibentuk tepung. Tepung ubi ini mempunyai banyak kelebihan dibanding bentuk aslinya karena tepung dapat diperkaya dengan vitamin maupun mineral, mudah disimpan, fleksibel dalam pengolahan, penyajian dapat disesuaikan dengan selera masyarakat kini. Dari aspek kuliner dapat ditingkatkan variasi cara memasak untuk menghasilkan aneka ragam makanan sesuai dengan selera modern.

Hal ini melahirkan tantangan bagi industri pengolahan maupun jasa kuliner. Pada gililrannya akan meningkatkan nilai tambah dari produk aslinya, membuka lapangan pekerjaan baru, menambah pendapatan pelaku bisnis. Bisa dibayangkan perbedaan ‘gengsi’ sarapan pagi makan cornflakes versus grontol meski sama-sama sarapan jagung. Kudapan kue berbahan dasar tepung ganyong dan garut, maupun gethuk  singkong tak kalah menariknya dengan kue lain yang dipajang di bakery. Nikmatnya pancake berbahan dasar ubi terasa ‘maknyuss’ dan itu merupakan wajah lain dari serabi. Saat ini di pasaran banyak beredar bihun jagung. Di Cina bihun dan mie dengan bahan baku ubi dan talas sudah diperdagangkan secara luas, dengan memanfaatkan budaya lokal kebiasaan masyarakat Cina menyantap mie. Ngrowot? Mengapa tidak!!

Tulisan ini diinspirasi oleh tulisan Pdt. Yahya Tirta Perwita, S.Th., MPd, mengenang Pdt. Pensiunan Dr. Meno Subagyo yang mempunyai kebiasaan ngrowot (Tabloid Adiyuswa, edisi April 2008). (Dimuat di Tabloid Adiyuswa Rubrik Pengetahuan Edisi April 2008)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Alam, Pangan, Seri PKL dan tag , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke ‘Ngrowot’ dan Kedaulatan Pangan (Sumbangan dari Kearifan Budaya Lokal)

  1. Ping balik: Wiwawite Lesmbadonge | RyNaRi

  2. fitrotul nariyanti berkata:

    Ngrowot memang sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang khususnya masyarakat Jawa. Entah tradisi ini dilakukan untuk maksud tertentu, yang jelas dengan membiasakan diri ngrowot kita akan lebih mengenal tumbuhan menjalar yang ternyata enak juga dikonsumsi. Misalnya Uwi, gembili, ganyong, talas dan masih banyak lagi tanaman rambat yang jika diteliti lebih detil bisa dijadikan makanan selingan.

    Alam menyediakan banyak alternatif untuk keberlanjutan hidup manusia, kita belajar mengelolanya, selamat mencoba ngrowot

  3. Damara Dinda Nirmlasari Zebua berkata:

    saya sangat tertarik membaca blog ini..
    menurut saya, budaya ngrowot tidak gampang untuk dilakukan, mengingat kita masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa menjadikan beras sebagai makanan pokok. Apalagi kalau kita belum mengonsumsi beras, kita belum merasa kenyang. Tapi kalau dibawa ke lapangan yang lebih luas, budaya ini justru dapat menjadi solusi atas masalah di negeri ini. Budaya ini tidak hanya bersifat solutif tetapi juga transformatif. Misalnya saja, sekali setahun diadakan satu hari tanpa makan nasi, sebut saja sebagai hari Ngrowot Nasional. Hal ini tentu saja dapat menjadi pengingat buat kita bahwa masih ada alternatif lain yang dapat kita konsumsi selain beras, yang tentunya baik rasa maupun kalorinya tidak kalah dengan beras. Dengan begini, sebagai masyarakat, kita tidak selalu bergantung pada beras. Ini hanya saran saja, Bu..
    Hehe 😀
    Terimaksih 🙂

    Usulan yang konstruktif, hayoo diwujudnyatakan dipelopori generasi muda terpelajar. Trimakasih ya tambahannya.

  4. Baskara berkata:

    menurut saya, jaman sekarang mungkin masih susah untuk budaya ngrowot, mengingat banyak orang tidak hanya tergila-gila pada budaya barat, tapi juga tergila-gila ke budaya Timur yang mempengaruhi aspek kuliner juga.
    sehingga timbul pikiran bagi orang lokal, rasanya ‘nggak keren’ klo makan makanan lokal. Jadi saran saya, perusahaan kuliner tetap mengolah singkong atau bahan2 ngrowot lainnya menjadi sebuah makanan yang menarik tetapi namanya disamarkan dengan (misalnya) nama latin singkong (manihot utilissima). Contohnya kue singkong jadi ‘Manihot cake’ , supaya terdengar lebih keren dan bisa ikut bersaing di kancah internasional.
    Hanya saran saja, terimakasih 🙂

    Usulan yang kreatif membangun, pelabelan dan pencitraan sehingga mengangkat nilai produk. Terimakasih

  5. leonardus berkata:

    semaki bertambahnya populasi manusia di negara ini,maka negara ini akan rawan terhadap bahan pangan terutama nasi
    jika kita tidak mau seperti ini terus,solusi yang terbaik adalah ngrowot(mengganti nasi dengan ketela pohon,ubi jalar,jagung dsb)karena selain enak juga terdapat karbohidrate yang sama dengan nasi

    Diversifikasi pangan karbohidrat dengan perubahan kultur/budaya makan ya, trimakasih

  6. cony purwati berkata:

    gimana kalo ngrawotnya di ganti dengan roti aj bu’ jangan nasi terus,biar ketambaha kabohidrat :),biar seperti orang barat;).

    Diversifikasi pangan ya, utamanya adalah jaminan kecukupan pangan dari aspek sediaan dan keterjangkauan

  7. Wong Cilik berkata:

    Saat ini, sepertinya ngrowot agak jarang di praktekkan ya bu Prih … Kalau belum makan nasi, rasanya seperti belum makan … 😀

    Trimakasih mas Hindri, perlu ‘kemasan ngrowot’ ala kini sebagai sarana pencapaian kedaulatan pangan. Selamat berkarya

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s