Perlindungan Konsumen (Petani) atas Iklan Pupuk

Perlindungan Konsumen (Petani) atas Iklan Pupuk

Tulisan ini disusun dari keprihatinan maraknya iklan pupuk dengan gaya bahasanya yang bombastis dengan penuturan khasiatnya yang luar biasa mencengangkan. Permasalahan pupuk menyangkut masalah hidup orang banyak yaitu saudara-saudara kita yang menggantungkan hidup dari kegiatan bercocok tanam. Sesungguhnyalah petani adalah partner/mitra kita karena selama ini tidak ada satupun sumber energi bagi tubuh kita selain dari produk makanan yang kita konsumsi yang notabene hasil olahkarya rekan-rekan petani. Untuk itu sudah semestinyalah dilakukan perlindungan konsumen yang dalam hal ini petani atas iklan pupuk.

Pemakaian kata perlindungan konsumen terasa sedikit menggelitik, seolah-olah iklan pupuk adalah ancaman sehingga pembelinya harus dilindungi. Memang iklan yang kurang mencerminkan kualitas produk yang diiklankan akan membahayakan sehingga konsumen/petani perlu dipersiapkan untuk menyikapinya secara arif.

Petani dan pupuk
Ketergantungan petani terhadap pupuk luar biasa, kelangkaan ketersediaan pupuk pada musim tanam raya maupun harga pupuk di pasaran yang melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang dipatok pemerintah senantiasa memicu gelombang protes. Takaran pupuk yang digunakanpun seringkali melibihi takaran yang semestinya sehingga berpotensi menimbulkan residu yang berdampak negatif terhadap lingkungan selain tentunya pemborosan beaya produksi.

Pada hakekatnya apa yang dibutuhkan oleh tanaman secara alami telah disediakan oleh alam baik dari udara, tanah maupun air irigasi. Terjadi siklus hara antara alam (tanah, air, udara) – tanaman – hewan – manusia yang terjalin secara harmoni dengan mata rantai mikroba. Namun tuntutan tingkat produksi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan manusia menyebabkan keseimbangan berubah. Pengurasan hara berlangsung lebih cepat dibanding penyediaan alamiah sehingga perlu campur tangan manusia. Penambatan N dari udara yang secara alami dilakukan oleh mikroba diadopsi oleh pabrik pupuk nitrogen. Pelarutan hara fosfor dan kalium yang secara alami terjadi dipercepat dengan penambangan deposit hara dan pengasaman di pabrik. Sehingga petani menjadi pelanggan setia pabrik-pabrik pupuk.

Kesadaran akan pentingnya pengembalian sebagian organ tanaman ke dalam tanah, menghidupkan gerakan pengembalian bahan organik untuk menyeimbangkan siklus alami hara dan menempatkan bahan organik sebagai elemen penting dalam proses produksi pertanian. Momen ini ditangkap secara apik oleh berbagai pihak dengan memproduksi berbagai macam pupuk ataupun produk yang berlabel organik. Beberapa memang berangkat dari pentingnya keseimbangan alam namun tidak dipungkiri beberapa yang lain melepas produk dengan komposisi yang belum teruji penuh. Sehingga kembali petani menjadi target penjualan saprodi bernuansa organik yang tidak semua dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam perkembangannya disadari pentingnya mikroba dalam keselarasan siklus alam. Beberapa praktek budidaya telah mengubah keseimbangan biotik sehingga diperlukan upaya pemulihan melalui inokulasi mikroba. Mikroba penambat nitrogen, mikroba pelarut fosfor, mikroba perombak bahan organik maupun mikroba pengendali hama penyakit diproduksi besar-besaran di laboratorium dan dikemas menjadi produk pabrikan. Sungguh suatu tindakan yang cerdas, namun peluang ini ternyata dimanfaatkan juga oleh beberapa pihak yang kurang bertanggung jawab. Nah kembali petani disuguhi berbagai produk berlabel hayati dengan promosi yang super canggih.

Kemasan bahasa iklan sungguh efektif, penggunaan kata “alternatif” yang dimaknai dengan menggantikan secara penuh, sehinga seolah-olah masing produk tersebut mampu secara dramatis mengatasi masalah produksi pertanian. Hal yang terjadi adalah mengatasi masalah secara separatis, yang hakiki kinerja bersama antara pupuk pabrikan, pengembalian bahan organik dan aktivasi mikroba sebagai upaya menghadirkan pengertian siklus sebagai suatu lingkaran yang utuh menjadi hilang.

Peran Pemerintah
Petani sangatlah mendambakan kenaikan pendapatan melalui peningkatan hasil yang diperoleh dari aplikasi pupuk. Namun keterbatasan pengetahuan menyebabkan sebagian (mudah-mudahan tidak sebagian besar) petani akan mudah tergiur oleh iklan pupuk yang mampu melipatgandakan hasil dalam waktu singkat. Perlu perlindungan konsumen yang tentunya diawali oleh peran pengawasan pemerintah.

Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 2001 tentang Pupuk Budidaya Tanaman dalam pelaksanaannya ditindaklanjuti dengan beberapa produk hukum pendukungnya. Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 09/Kpts/TP.260/1/2003 tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pupuk An-organik. Kepmentan No. 237/Kpts/OT.210/4/2003 tentang Pedoman Pengawasan Pengadaan, Peredaran dan Penggunaan Pupuk An-organik. Kepmentan No. 238/Kpts/OT.210/4/2003 tentang Penggunaan Pupuk An-organik. Kepmentan No. 239/Kpts/OT.210/4/2003 tentang Pengawasan Formula Pupuk Anorganik. Keempat permentan tersebut menata tentang pupuk anorganik.

Perlu waktu tiga tahun berikutnya untuk memberlakukan Permentan No. 02/Pert/HK.060/2/2006 tentang Pupuk Organik dan Pembenah Tanah. Pengawasan dan pembinaan produsen pupuk organik dan pembenah tanah tidaklah mudah mengingat skala usaha yang sangat beragam dari skala rumahan hingga industri besar.

Untuk keperluan pengadaan pupuk hayati sudah barang tentu sangat diperlukan adanya Peraturan Menteri Pertanian mengenai penetapan standar mutu pupuk hayati, untuk mengapresiasi industri pupuk hayati yang berjuang memfasilitasi peningkatan produksi pertanian sekaligus perlindungan bagi petani. Saat ini peraturan yang ada adalah tentang pelarangan penggunaan mikrob transgenik untuk pupuk hayati yang tertuang pada Keputusan Bersama Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Menteri Kesehatan dan Menteri Negara Pangan dan Hortikultura Tahun 1999 tentang Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Pertanian Hasil Rekayasa Genetika.

Peningkatan kapasitas petani melalui pendampingan dinas terkait sangat efektif untuk membekali petani dengan kemampuan menyaring informasi dari iklan pupuk. Penggalangan kekuatan melalui kelompok tani berkontribusi nyata meningkatkan efisiensi pemanfaatan informasi.

Produsen Pupuk
Selain permasalahan teknis produksi maupun aspek komersialisasi, kepatuhan prosedur merupakan bagian dari tanggung jawab moral produsen. Kemampuan menghasilkan produk yang unggul dan dilaksanakan dalam koridor prosedur yang tepat merupakan sebagaian tolok ukur keberhasilan produsen pupuk. Aspek pengendalian kualitas sangatlah penting, produk yang dihasilkan telah melewati tahap-tahap pengujian yang sah serta pengawalan produk di lapangan hingga petani mendapatkan kemanfaatan maksimal karena menggunakan produk secara benar.

Kekuatan pasar untuk menilai produk luar biasa, sekarang tidak bisa lagi melepas produk secara bebas. Paradigma biarlah petani yang berhati-hati sebelum membeli pupuk semestinya bergeser menjadi sebaiknya produsenlah yang harus berhati-hati melepas produk pupuk ke pasar. Idealnya lebih mudah mendampingi pembinaan ribuan produsen pupuk daripada mendampingi dan mengadvokasi jutaan petani pembeli pupuk.

Peran Masyarakat
Peran masyarakat diwujudkan melalui kebebasan menilai kualitas produk secara bertanggung jawab, dan memberikan penilaian secara jujur. Kekuatan opini masyarakat sangatlah besar, oleh sebuah opini produsen besar bisa kalang kabut. Untuk itulah kebebasan beropini perlu disandingkan dengan aspek kejujuran dan tanggung jawab.

Tentunya bagian masyarakat yang lain akan ikut berperan serta sesuai dengan kapasitas dan tugas panggilannya masing-masing. Baik dari YLKI, LSM, akademisi, peneliti, tokoh religi maupun panutan lokal akan bertindak sesuai dengan model kiprahnya.

Akhirnya, melindungi konsumen (petani) dari iklan pupuk berarti menjaga keberlangsungan produksi pertanian yang menjadi sumber energi tubuh manusia yang bermuara pada melindungi diri kita sendiri.

Salatiga, arsip Sept 2008 unggah Sept 2012

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Alam, Pangan dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Perlindungan Konsumen (Petani) atas Iklan Pupuk

  1. Ping balik: Optimalisasi sumberdaya lokal dalam usaha tani berkelanjutan | Berguru pada Alam

  2. Ping balik: Iklan dan gendul | RyNaRi

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s