Konservasi Tanah di GML Puh Sarang Kediri

Konservasi Tanah di GML Puh Sarang Kediri

Puhsarang, konstruksi atap merespon pola hujan

Puh Sarang, konstruksi atap merespon pola hujan

Setiap pembelajar konservasi tanah dan air kenal dengan persamaan umum kehilangan tanah yang diformulasikan oleh Wischmeier, W.H. dan D.D. Smith dengan Universal Soil Loss Equation (USLE). Dan setiap pengunjung GML Puh Sarang akan mendapat informasi bahwa Gereja Katolik di Puh Sarang didirikan oleh Ir. Henricus Maclaine Pont pada tahun 1936 atas permintaan pastor paroki Kediri pada waktu itu, Pastor H. Wolters, CM. Namun pernahkah membayangkan masing-masing tokoh tersebut berdiskusi, membuat rancangan dan mengimplementasikannya di lapangan? Yap buah pikiran beliau-beliau nyata dalam bangunan lapang.

Persamaan Umum Kehilangan Tanah

Besarnya kehilangan tanah (A) = R x K x LS x CP, dimana R adalah erosivitas hujan (kemampuan hujan menimbulkan erosi), K adalah erodibilitas atau kepekaan tanah, LS adalah factor kelerengan mencakup panjang dan kemiringannya, serta CP adalah faktor pengelolaan baik secara fisik maupun biologis dalam melalui tanaman. Dari persamaan tersebut, beberapa faktor bersifat given dari alam seperti R, K dan LS sehingga yang diperlukan adalah bagaimana tindakan merespon agar besaran erosi dapat dikurangi dengan pengelolaan faktor CP. Tanpa pengelolaan faktor CP (nilai CP maksimum 1) besaran erosi ditentukan oleh kombinasi R x K x LS. Dengan pengelolaan faktor CP sehingga nilainya <1 besaran erosi bisa ditekan dari potensinya.

Implementasi di GML Puhsarang

Puhsarang, erodibilitas dan erosi

Puh Sarang, erodibilitas dan erosi

Secara alami lahan berbukit di lereng G Wilis ini memiliki laju erosi yang cukup tinggi didukung oleh kelerengan dan curah hujan yang tinggi. Merespon pola hujan, arsitektura dan konstruksi atap bangunanpun menyesuaikan. Kombinasi cembung cekung kemiringan atap dirancang bukan hanya menghadirkan keindahan sekaligus juga sirkulasi udara dan pengaturan peluruhan cucuran hujan dari genting tanpa talang penadah. Konstruksi reng dan usuk yang dimodifikasi dengan pengikatan dengan kawat baja menjadikan plafon atas kuat dan bersih.

Puh Sarang, konstruksi atap merespon curah hujan

Puh Sarang, konstruksi atap merespon curah hujan

Puh Sarang, memperbesar infiltrasi dengan resapan

Puh Sarang, memperbesar infiltrasi dengan resapan

Untuk kenyamanan peziarah, bagian jalanpun diperkeras dengan tatanan batu dengan tetap memperhatikan pola drainase pembuangan air berlebih. Pada beberapa titik dibuat resapan untuk membantu infiltrasi air dan memperbesar penahanan air oleh tanah.

Puhsarang, terasering dengan batu

Puh Sarang, terasering dengan batu

Mempertahankan kealamian kelerengan diupayakan dengan pemotongan panjang lereng melalui bangunan konservasi teras bangku yang diperkuat dengan bebatuan di tebing teras. Dengan teras ini laju aliran permukaan dihambat sekaligus memberikan kesempatan air tanah mengisi cadangan air bumi.

Puhsarang, pengelolaan faktor CP

Puh Sarang, pengelolaan faktor CP

Pengelolaan C dan P secara sinergi diwujudkan dalam penanaman multi strata, air hujan diintersepsi oleh pepohonan, cucurannya masih dihadang oleh tanaman yang lebih rendah hingga tanaman penutup tanah. Melalui multistrata ini kekuatan potensial air dalam menghancurkan agregat tanah dikurangi. Secara menyeluruh pengelolaan konservasi secara fisik lebih dominan, seandainya dibarengi dengan pengelolaan tanaman semisal penataan taman tentunya menjadi lebih indah. Taman yang ada berupa tema taman hidangan Kana dengan makna agar hidangan yang disantap menjadi berkat bagi tubuh dan kehidupan setiap penikmat kuliner dengan lebih menekankan pada paduan bangunan kios makanan dengan pepohonan. Sedikit berbeda dengan Taman GMKA yang menghadirkan konsep taman dalam paduan rerumputan, kolam dan tanaman hias.

Secara umum jadilah kemasan paket wisata religi-budaya yang berwawaskan ekologis.

Puhsarang dan konservasi tanah

Puh Sarang dan konservasi tanah

Tulisan terkait:

Belajar Konservasi Tanah di Taman GMKA

Budaya dan spiritual berpadu di bumi Puh Sarang

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Alam, Lingkungan Hidup, Seri PKL dan tag , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Konservasi Tanah di GML Puh Sarang Kediri

  1. Ping balik: Sehari Bersama si Molek | RyNaRi

  2. Ping balik: Melintas di Museum Majapahit | RyNaRi

  3. edratna berkata:

    Mbak tak catat ya….soalnya temen-temen kelompokku (A678) kan sering berwisata…sudah niat mau wisata nusantara….sedang ngumpulin uang nih, siapa tahu suatu ketika sampai sini.

    Silakan bu En. Kediri sangat menarik, ada petilasan kerajaan Daha, simpang SLG, industri GG, alam dan budaya cantik. Senang sekali membaca cerita kekompakan kakak2 A678, jalan bareng menikmati masa purna tugas. Salam

  4. LJ berkata:

    tampaknya blog ini merupakan tuangan ilmu ibu secara lebih detil..
    sedangkan rynari berisi tuangan ilmu lewat tulisan ringan agar bisa aku cerna.
    dua2nya keren, bu..

    Terima kasih Uni kunjungannya, dua-duanya masih proses belajar menulis dan bersahabat. Salam

  5. Ping balik: Budaya dan spiritual berpadu di bumi Puh Sarang | RyNaRi

  6. Evi berkata:

    Mb Prih itu lh kekuatan Belanda, membangun penuh perencanaan. Maknya peninggalan mrk awet sampai sekarang sprt di Puhsarang ini. tempatnya tampak begitu damai Mbak 🙂

    Poin menarik dari Uni Evi, kekuatan perencanaan pembangunan sehingga kemanfaatannya holistik dan jangka panjang. Mencoba menangkap damai dalam keriuhan kunjungan nih Uni. Salam

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s