Seri Tlogolele: Mbrebes mili menjadi mbanyu mili

Seri Tlogolele

Mbrebes mili menjadi mbanyu mili

Mbrebes mili

Mbrebes mili atau bercucuran air mata merujuk pada rasa sedih yang amat sangat. Itulah yang dialami oleh warga Desa Tlogolele yang berada di ujung Barat Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali pada erupsi Merapi akhir Oktober-Nopember 2010. Sebagai desa tertinggi yang langsung berbatasan dengan Taman Nasional Merapi arah Barat Daya, desa tersebut mengalami kerusakan yang parah, timbunan material abu dan pasir halus cukup tebal dan masih terlihat jelas di lahan pertanian saat ini dan wargapun berbondong ke pengungsian ke wilayah PemKab Magelang.

Banjir lahar dingin sebagai ikutan erupsi merusak tuk (sumber) air, menghantam dan menghanyutkan pipa air yang mengalirkan air ke desa dan bahkan membobol dam Kali Apu. Air sebagai kebutuhan vital dan komponen utama penyusun tubuh makhluk hidup (manusia, ternak dan tanaman) terputus alirannya, pun ambrolnya dam sebagai prasarana utama transportasi keluar masuk desa menjadikan Desa Tlogolele resmi terisolir.

Menggambarkan kritisnya masalah air, air kran yang sangat terbatas tercemar abu vulkanik terlarut, penduduk harus berjalan beberapa kilometer untuk mencapai sumber air di Kali Tulung yang berada di desa setempat bahkan harus menuju ke dasar sungai. Menadah air hujan saat musim penghujan menjadi bagian dari kenangan kesulitan tersebut.

Mbanyu mili bersama water for life

1. Water for life

Water for life-pipanisasi Merbabu Merapi

Menikmati bak-bak tandon air maupun bangunan bak distribusi air dengan pipa-pipa paralon terurai di sepanjang desa bahkan pada bulan September (2013) yang dicandra dengan asat-asating sumber (sumber air mengering) juga jerigen penuh air yang siap diangkut penduduk ke rumah dan kebun mereka yang terasa adalah Tlogelele nan mbanyu mili (air senantiasa mengalir).

4. Gemericik air di dk Stabelan ds Tlogolele

Gemericik air di dk Stabelan ds Tlogolele

3. Mengalir tiada henti (dk Ngadirojo)

Mengalir tiada henti (dk Ngadirojo, ds Tlogolele)

Merasakan mbrebes milinya warga Tlogolele, komunitas Al-Azhar Peduli Ummat melaksanakan program water for life, pipanisasi air bersih Merbabu-Merapi 12 km sebagai kontribusi recovery Merapi. Merbabu-Merapipun saling berbagi. Bahu membahu antar berbagai pihak, masyarakat sangat antusias menyambut program ini dan tuntas pada bulan April 2011. “Dalam suasana penuh kekeluargaan hari itu, semua saling mengingat jatuh bangun, saat menaklukkan 10 jurang untuk membentangkan pipa 4 inc sejauh 12 KM.” Demikian petikan dari web Al-Azhar Peduli Ummat saat acara serah terima hasil kegiatan ini. Mbrebes mili berganti mbanyu mili di Tlogolele.

2. pipa merentang antar jurang

pipa merentang antar jurang di dam Kali Apu

Hutan, gunung, air kekayaan Ibu Pertiwi

Tiada gunung tanpa hutan, tiada hutan tanpa tumbuhan, tiada tumbuhan tanpa penyimpanan air. Secara alami gunung yang berselimutkan hutan menjadi rumah bagi cadangan air dan pada gilirannya menjadi air kehidupan bagi masyarakat sekitarnya bahkan air mengalir sampai jauh bagi masyarakat pesisir.

Ekosistem hutan memiliki peranan sangat penting dalam pengaturan dan perlindungan tata air (fungsi hidrologis hutan). Bagaimana tajuk pepohonan mengintersepsi air hujan menyimpannya sebagai selaput tipis di permukaan batang maupun rimbuan lembar daunnya, melepaskannya kembali ke atmosfer menjadi bagian air hijau dalam siklus air kecil. Lebatnya perakaran dan seresah di lantai hutan sebagai pengikat agregat tanah sehingga tidak mudah tererosi, ditandai dengan jernihnya air yang keluar dari tepian hutan. Mantapnya agregat tanah memungkinkan proses infiltrasi air optimal dan berlanjut pada proses perkolasi, air tanah dengan gaya gravitasi bergerak mengisi cadangan air menuju air bumi.

Berbagai teori membahas tentang persentase penutupan lahan dan implementasinya. Pemahaman awam saya, deforestasi maupun alih fungsi hutan meski dengan tingkat penutupan lahan yang sama berpengaruh pada fungsi hidrologisnya. Seberapa hutan selimut gunung berupa hutan lindung, bagaimana kawasan konservasi terlindungi dari tekanan ekonomi industri, bagaimana pertumbuhan ekonomi dan ekologi saling bersinergi agar tidak menjadi bagian dari lirik lagu Ibu Pertiwi sedang merintih dan bersusah hati.

Gunung Merapi sebagai gunung berapi dengan bentuk strato (kerucut) memiliki sungai-sungai yang menurun terjal, implikasinya pada musim penghujan air mengalir dengan deras. Kecepatan aliran air tersebut menghasilkan daya gerus dan daya angkut atau erosi yang tinggi sehingga cukup banyak tanah subur dan lumpur dari lahan pertanian yang dilaluinya dan tebing sungai untuk diendapkan di bagian sungai yang lebih datar.

Refleksi kini

Dari hayatan sesaat banyu mili di Tlogolele ini minimal dua pembelajaran kami dapat yaitu tentang (1) pengelolaan sumberdaya alam hutan-gunung sebagai sumber air bersih dan (2) pewujudnyataan empati berbagi. Mencerna cerita panjang masa-masa sulit air hingga mbrebes mili dan usaha keras mengalirkan air merentang pipa melintas jurang untuk menghadirkan air, bagaimana kita bersikap tega dalam pemanfaatan air yang mbanyu mili tinggal putar kran di rumah?

Untuk skala rumah tangga kegiatan mengurangi (reduce) dan pemanfaatan kembali (reuse) bisa diterapkan. Sebagai contoh kecil, bila setiap orang menghemat 1 gayung per kegiatan mandi, maka dalam waktu 1 bulan setiap keluarga yang terdiri dari 4 orang mampu menghemat sekitar 1*2*4*30 setara dengan 240 liter, mampu mencukupi kebutuhan lebih dari 2 jiwa per hari dengan standar kota sedang dengan kebutuhan 110 liter / per kapita / hari. Pemanfaatan kembali semisal bilasan cucian terakhir (busa sabun sudah minimal) dimanfaatkan untuk kegiatan membersihkan kamar mandi ataupun menyiram halaman.

kebut air rumah tangga

Bila Merbabu-Merapi meneladankan diri empati saling berbagi air kehidupan (tirtaning agesang) menjadi pengingat diri bahwa setiap titah menjadi pengelola sekaligus bagian alam dalam mengupayakan kesejahteraan. Berbekal semangat kerjasama dan kerja keras, mensyukuri berkat melalui empati sesama, mbrebes mili mampu diubah menjadi mbanyu mili, kearifan lokal masyarakat Desa Tlogolele menyikapi krisis air pasca erupsi Merapi 2010.  Lestari bumi anugerahNya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Alam, Lingkungan Hidup, Seri PKL, Seri Tlogolele dan tag , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Seri Tlogolele: Mbrebes mili menjadi mbanyu mili

  1. Ety Abdoel berkata:

    Air adalah sumber kehidupan, kebayang betapa sulitnya hidup jika air susah didapat. Syukurlah Tlogolele bisatersenyum kembali dan semoga hutan-hutan di negri ini bisa lestari demi terjaganya sumber air, sumber kehidupan kita semua.

    Setuju Jeng Ety, saat air berlimpah tak terarah jadi masalah, saat kering kerontang bikin merinding
    Semoga kita semua semakin bijak mengelola air berkat kehidupan

  2. mechtadeera berkata:

    alhamdulillah…, Tlogolele sudah tak mbrebes mili lagi…, berkat kerjasama banyak pihak ya bu… dan terima kasih sudah mengingatkan untuk memanfaatkan sebaik-baiknya air yg mbanyu mili dengan mudahnya di rumah kita… 🙂

    Pengingat bagi kita bersama, mengelola dan memanfaatkan berkat air dengan seoptimal mungkin. Salam

  3. Ping balik: Seri Tlogolele: Dam Kali Apu, Simbol Persahabatan dengan Gunung Merapi | Berguru pada Alam

  4. lozz akbar berkata:

    Hmm Selo? saya pernah ke sana pas naik Merapi.. Insya Allah kalau enggak salah di tandon air dalam foto itu saya pernah ambil air, atau mungkin mirip ya hehehe.

    deforestasi.. dimana-mana ujung-ujungnya akan membuat manusia sengsara. Yuk, selama masih ada cinta pada bumi kita, lakukan apapun yang kita mampu untuk bumi yang kita cintai ini.

    suka banget dengan postingan macam gini

    Wah ditengokin Uncle pecinta gunung. Bagi pendaki gunung Merapi, Selo tidak asing sebagai pintu masuk pendakian dari arah Utara. Tlogolele berada di sisi Barat Daya Merapi dengan karakter yang senada dengan daerah yang Uncle lewati saat mendaki.
    Terima kasih, postingan pembelajar sekolah alam

  5. harumhutan berkata:

    dua blog ibu? saya sempet kaget tadi kok kesini..kirain salah masuk

    tapi saya yakin bukan karna aroma khas ibu prih tetap melekat disini 🙂

    dan saya terharu dengan perjuangan membuat aliran air itu..mbrebes mili saya..

    terbayang betapa susah dan repotnya tanpa air…sebab air adalah muara kehidupan.

    rantai kehidupan yang saling terkait hutan,gunung,air …semoga bisa menjaga smua kelestariannya. belajar dari alam merekalah ilmu yang luas yang harus digali :0

    salam rimba,salam lestari 🙂

    Dua blog abal-abal dan tak terurus dengan teratur Jeng
    Hutaners pastinya lebih gemericik menyoal hutan, gunung, air beserta dinamika teknis, maupun sosial budayanya.
    Mbrebes mili bersama Jeng, mengiringi syukur untuk air yang mengalir di Tlogolele.
    Salam rimba

    • harumhutan berkata:

      aduuh knapa panjang sekali komen saya *nepok jidat…

      hampura ya bu prih,,,,, ** ini anak hutan kalo uda ngomong soal hutan nyerocos ga karuan 😳 maaf

      Hatur nuhun Jeng, saling berbagi kegembiraan dan keprihatinan menyoal air, santai saja Jeng
      belajar hutan dari sang peri rimba nan harum

  6. Ping balik: Menghampiri Merapi di Dukuh Stabelan, Tlogolele | RyNaRi

  7. Pakies berkata:

    ngomong masalah air, pikiran saya langsung melayang pada peristiwa seputar 98 an, di beberapa daerah dekat tinggal saya terjadi penjarahan kayu hutan oleh sebagian masyarakat dengan berbagai dalih dan alasan. Dan efeknya baru terasa 5 tahun berikutnya, ketika hujan menjadi lahan banjir dan longsor dan ketika kemarau, sumber-sumber mata air (belik) menjadi kering. Pada akhitna mereka pun harus belajar bahwa kehidupan manusia harus harmonis dengan alam, jika mereka arif alampun akan berbagi dengan indah, dan sebaliknya

    #baru tahu kalo Bu Prih punya blog ini. Saya catet di list.

    Potret keseharian dari konflik hutan, lahan, kayu dengan dampak ketersediaan air yang tidak langsung terasa.
    Istilah belik (sendang kecil) yang menyejukkan saat air bumi menyembul ke permukaan tanah …
    Setuju, kita selalu diingatkan sebagai bagian alam yang mendapat karunia akal budi dalam mengelola alam.
    #iya Pak dan terbukti kurang rajin merawatnya… Matur nuwun Pak.

  8. monda berkata:

    syukurlah akhirnya Tlogolele kembali penuh air.. lele bisa hidup lagi.
    tlogolele sama dengan kolam lele kah?

    Berkat empati, kerjasama dan kerja keras banyak pihak ya mbak.
    Iya tlogolele berarti kolam lele. Salam

  9. prih berkata:

    Tarimo kasi Uni penjaga LJ, berbagi rasa untuk kesejukan ladang Tlogolele. Salam

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s