Hijau, Kami Butuh Kau!

Hijau, Kami Butuh Kau!

Oleh: Livia Trihanni Hasan, Sugiyono Purnamasidi, Gabriela Desnata Yoan A.

hijau alamku

hijau alamku

Rekaman historis bercerita tentang sebuah negara khatulistiwa bak kristal nirwana, berkemilau hijau nan indah. Suatu negara yang kaya sekaligus surga bagi beragam flora dan fauna. Itulah Indonesia, sang Zamrud Khatulistiwa.

 Cerita bermula ketika sang historis singgah di zaman keajaiban. Kala itu, Sang Hijau yang terlahir sangat berkuasa sebagai tuan rumah. Tumbuhan berlimpah ruah sepanjang mata memandang. Di sini hijau, di sana hijau, bahkan ‘tongkat’ dan ‘batu’ saja bisa berubah jadi tanaman. Di bawah naungan Sang Hijau, hutan-hutan malah bisa menyumbang pangan. Di bawah naungan Sang Hijau, tak perlu banyak peluh menetes untuk membuat perut kenyang.

Bumi berputar: rotasi dan revolusi. Kilau sang Zamrud menarik datang para kompeni. Berbalik, Sang Hijau kini yang kehilangan otoritasnya. Tanah diperas dan bukan saja peluh tapi darah turut menetes di antara perut-perut yang mulai membusung. Rempah-rempah dan tanaman jarak jadi primadona, menyingkirkan kesejahteraan pribumi, mendatangkan berkah bagi mereka, para kompeni.

Kelam berlalu. Sinar rembulan menyapa Sang Hijau yang terlelap. Pribumi yang menjerit kelaparan berupaya membangunkannya secara paksa. Suatu gerakan yang disebut revolusi hijau dicanangkan. Sang Hijau dimanjakan dengan beragam perhatian. Hingga sebuah pencapaian membuat mereka-mereka kian terlena. Swasembada beras membuat mereka-mereka buta dan semakin memilih untuk memabukkan Sang Hijau dengan aneka rupa input dan fasilitas. Mereka-mereka tenggelam dalam keserakahan. Mereka-mereka yang diam-diam menghanyutkan Sang Hijau.

Rembulan kembali menghilang di balik awan, mendatangkan hitam pekat yang merundung di langit. Lagi-lagi silau membuat orang menyingkirkan kejayaan Sang Hijau. Dicampakkan lagi, ditindas lagi, dilupakan lagi. Ini era industri, Bung. Yang kuat berkuasa, yang lemah ditinggalkan. Yang kuat diagungkan, yang lemah disingkirkan. Sang Hijau yang dulu dikejar-kejar dan bahkan sangat berharga di mata kompeni, sudah menjadi ling-lung. Keajaibannya tidak seindah dulu lagi. Kekuatannya tidak benderang lagi. Pesonanya tidak semenarik dulu lagi. Serta merta, kesejahteraan yang dulu pernah dihadirkannya tak dianggap. Pribumi lagi, pribumi lagi, lagi-lagi pribumi. Tangan mereka-mereka yang mengambil penghapus nama Sang Hijau dari daftar prioritas. Kaki-kaki mereka yang mulai berlomba-lomba mengejar kejayaan dunia industri yang terkenal dari barat. Sementara itu, Sang Hijau hanya disimpan dalam kotak sempit dan pengap. Kejayaannya di masa lampau hanya seperti hembusan angin yang diceritakan dari mulut ke mulut, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Dokumentasi Sang Hijau tersenyum terpapar dalam album-album ensiklopedi zaman dulu atau buku-buku sejarah yang kian usang. Sedikit tangan-tangan yang menjamah memori itu. Sedikit telinga yang mau sungguh mendengar. Sedikit hati yang tergerak. Fokus mata mereka beralih ke depan ranah gedung-gedung pencakar langit yang berdiri pada tanah-tanah hutan yang telanjang.

Katanya, Indonesia negara ibarat surga. Katanya, Indonesia sangat kaya sumber daya alam. Katanya, Indonesia ijo royo-royo, gemah ripah, loh jinawi. Katanya, katanya, katanya. Tetapi, kemanakah hutan? Di mana sarang burung-burung penyanyi? Di mana nada-nada indah seruling bambu sang penggembala kerbau? Kenapa orang-orangan sawah pergi menghilang? Ah, siapa yang peduli!

Kala suara ayam jantan memekikan telinga,“Hijau, Hijau!” panggil seseorang. “Hijau!” seru yang lain lagi. Mereka sibuk mencari. Ya, mereka mulai sibuk mencari kembali. Tetapi mereka bukan mencari yang terhilang, melainkan mereka mencari yang terbuang. Hijau menggeliat dalam kotaknya yang sempit dan tenggelam dalam keterpurukkan. Entah apa gerangan kata-kata ini kembali terlontar, “Kami butuh kamu, Hijau!”

Sepucuk Surat Caping

Di sana, di sudut kotak, Hijau beruasaha menulikan telinga. Tangannya memegang lembaran berisi untaian kata dari Caping.

Teruntuk Sahabatku, Hijau

Sahabatku, Hijau, aku tahu tak akan mudah bagimu untuk menerima ombang-ambing ombak keserakahan mereka. Aku tahu kau dapat semakin tersiksa karena terpasung keterbatasan untuk memenuhi permintaan mereka. Suara hatimu mengusik telingaku. Pahitnya kisahmu membuatku berpikir betapa seenaknya mereka yang hanya memeras untung dari padamu, semena-mena memperlakukanmu, kemudian mencampakkanmu, menindasmu. Memuakkan!

Kau jauh lebih berhak marah daripada aku, Hijau. Kau juga berhak untuk memberi mereka pelajaran. Hanya, simaklah segelintir ceritaku sebelum kau mengambil keputusan.

Hari ini belum pagi benar, dia yang empunya diriku tengah bersiap. Ada sisa singkong rebus semalam untuk mengisi perutnya. Lumayan, biasanya hanya segelas air putih yang ditelannya.

Langkahnya mantap keluar gubuk sembari mengenakan diriku. Kulitnya yang legam belum terlihat mengkilap. Badannya hanya cerminan hidup ala kadar. Harapannya menjulang, “Semoga dapat makan hari ini”.

Kau pasti tahu siapa yang kumaksud. Dia adalah salah satu dari sekitar 31,7 juta orang yang hingga tahun 2013 tetap berusaha setia padamu. Dialah juga yang turut merasakan suka duka bersamamu. Mereka menyebutnya dengan istilah petani gurem. Ada sekitar 14,25 juta orang yang disebut dengan istilah ini tahun lalu. Bagiku, istilah ini merendahkan derajat dan martabatnya. Bagaimana tidak, petani gurem identik dengan kasta orang-orang yang berkemampuan finansial sangat rendah. Suatu istilah yang membuatnya dipandang sebelah mata oleh masyarakat, menambah kerasnya hidup. Memang, dia petani kecil. Lahan hasil bagi warisan yang didapatnya tidak mencapai setengah hektar. Hasilnya tentu dapat kau bayangkan, dicukup-cukupkan untuk kebutuhannya dan sebisa mungkin ada yang bisa disisakan untuk dijual berapapun harganya. Kerja kerasnya sering jauh dari untung bahkan tak jarang juga dia merugi. Harga hasil taninya rendah dan dia tidak punya kuasa untuk dapat menaikkan harga. Akhirnya, tanggung jawab terhadap anak-istri yang memaksa dia mendua profesi sebagai tukang batu. Suatu pekerjaan kasar yang juga tidak menentu penghasilannya. Hanya itu yang dapat dilakukannya karena keterampilannya terbatas. Hidupnya hanya pasrah. Anaknya tak dapat susu. Anaknya tak dapat sekolah. Tidak beda dengan dirinya.

Dia telah sampai dengan helaan napas. Seandainya aku punya air mata yang dapat kukeluarkan, kepalanya pasti telah kuyup. Sawahnya terserang tikus. Hewan rakus itu hanya menyisakan dua petak yang bisa dipanen. Tampaknya, dia akan puasa lagi bulan ini. Ah, siapa yang peduli?

Dia pulang dengan gontai. Seorang yang necis menghentikan langkahnya. “Maaf, Pak, apakah sawah bapak dijual?” Dia ditawari sejumlah angka rupiah yang belum pernah dipegangnya, bahkan dibayangkan pun mungkin tidak pernah. Hidupnya hanya terpatri pada prinsip ”cukup makan, cukup tidur sudah senang, kalau bisa makmur, ya, syukur”.

Entah apa yang jadi keputusannya, bisa jadi aku akan segera menyusulmu Bisa jadi dia akan masuk golongan yang putus asa. Bisa jadi dia jual sawahnya dan jadikan hasilnya sebagai modal perantauan seperti tetangganya, Karno. Karno adalah teman senasib-seperjuangannya yang telah memilih pindah haluan. Karno merasa tidak ada gunanya melanjutkan usaha tani. Baginya, itu tidak akan menguntungkan. Yang dia tuai kebanyakan hinaan. Padahal, orang yang menghina dia adalah orang yang sehari-hari juga menikmati hasil jerih payah para petani seperti Karno. Lebih-lebih lagi, Karno kapok menghadapi dua jenis tikus. Satu tikus yang menyerang padinya, satu tikus konglomerat yang menyiksa batinnya. Bagaimana tidak? Mereka bermanis-manis, mengumbar janji, bersikap seolah-olah akan membantu tapi ternyata menipu.

Aku sendiri bingung, Hijau. Sandiwara yang terjadi adalah sandiwara tingkat tinggi. Aku hanya jadi saksi bisu dan sama sekali tidak bisa membedakan yang mana yang benar-benar memihak petani dan mana yang tidak. Aku dengar dari radio Karno sebelum dia pergi merantau. Kebutuhan pangan diramalkan akan melonjak hingga 40% pada tahun 2035. Tak habis pikir aku, bagaimana cara untuk dapat memberi makan mulut-mulut 305,6 juta jiwa yang lapar sementara lahan pertanian semakin sempit karena 80 ribu hektare areal pertanian hilang per tahun untuk beralih-fungsi ke sektor lain. Imbasnya, petani-petani gurem seperti pemilikku semakin bertambah. Belum lagi, generasi muda sering anti terhadap dunia pertanian. Mendengar diriku saja, mungkin mereka sudah merasa konyol sendiri. “Ih, jadi petani? Pakai caping?” Wajar sajalah, yang mereka tanamkan, kehidupan seorang petani identik dengan jerih payah yang tidak membuahkan hasil dan tingkat kesejahteraan rendah. Mereka lebih memilih jadi fashionista yang bergemerlapan daripada turun ke sawah, berkotor-kotoran, dan berusaha menyediakan pangan bagi kebutuhan masyarakat. Mereka lebih memilih untuk jadi fans boyband daripada menunjukkan rasa terimakasih kepada para petani, lebih-lebih berpikir untuk turut memajukan pertanian. Mereka lebih memilih mengikuti berita-berita artis Korea dan film atau gadget terbaru daripada pusing-pusing memikirkan kegiatan bercocoktanam yang memaksa peluh bercucuran. Mungkinkah ini generasi antipati? Aku pun juga tak tahu. Pertanyaan terbesarku sekarang, kemana tikus-tikus berdasi itu saat mereka dibutuhkan? Apakah karena tidak ada hubungannya dengan peningkatan citra, maka mereka pergi?

Kabar baik untukmu, Hijau. Tidak semua makhluk bernama manusia itu meninggikan ego. Ada yang mau menggali lebih dalam untuk menemukan cara mengembalikan kejayaanmu dulu. Orang-orang ini tidak hanya akan mengeksploitasi dirimu. Mereka juga memperhatikan keberlangsungan dirimu, kesejahteraan dirimu. Mereka menamakannya pertanian organik. Mereka tidak akan men-cekok-i dirimu dengan bahan-bahan yang bisa meracunimu lagi. Mereka akan biarkan kau bebas dan hanya memberimu nutrisi tambahan organik. Ada juga yang mengatakan ada banyak teknologi yang tidak pernah aku dengar. Ada yang menyebutkan hidroponik, aeroponik, vertikultur, atau apa sajalah itu. Aku tidak bisa mencernanya karena sedikit sekali informasi yang dapat aku terima. Terlebih pemilikku, mungkin dia sama sekali tidak tahu. Aku berharap, apapun itu, bukanlah benih-benih harapan palsu. Aku juga berharap apapun itu, dapat segera diterima oleh pemilikku. Alasannya, aku dengar, teknologi-teknologi itu dapat menghantarkan petani ke kehidupan yang lebih baik. Mungkin itu dapat membuat dia memilih untuk kembali bertahan dalam usaha tani yang telah digelutinya ini.

Janganlah menyerah, Sahabatku. Ingatlah keceriaan kita dulu di bawah awan. Tawa angin. Celoteh burung. Aku merindukan itu, tapi aku sendiri tak yakin, Hijau. Esok bisa saja tidak secerah hari ini. Aku mungkin harus bersiap masuk kotak yang sama denganmu. Hanya harapan itu tidak akan mati, Sahabatku. Aku percaya, suatu saat benih-benihmu akan semakin bertumbuh dan menyebar menjajaki tanah air kita lagi. Yang menarik, petualangan yang harus kita lalui mungkin akan sangat berbeda. Ini sebuah PR bagi banyak orang. Satu saja, jangan berhenti berusaha. Jika panggilan itu datang, bersiaplah, Sahabatku. Janganlah kau tolak, mereka membutuhkanmu.

Masihkah kamu memilih menutup mata?

Esok ditentukan juga oleh PILIHANMU.

Catatan:

Selamat ya Livia, Sugi dan Yoan….tetap menulis dan menulis. Sila direspon tanggapan para sahabat melalui komentar ini. Andalah pemilik postingan ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pengelolaan Lahan, Penulis Tamu, Seri Kiprah dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Hijau, Kami Butuh Kau!

  1. harumhutan berkata:

    selamat buat Livia,sugi dan yoan,kalian memang pantas menjadi pemenangnya *muach

    kami rindu hijau itu,hijau yang sejuk hijau yang damai,yang perlahan mulai tergigis,tapi tetap optimis bahwa hijau akan kembali bersemi,menuai dan royo royo…

    go green..! save our forest *suara hati inimah dg lantang triak dari dalam rimba yang rindu 🙂

    Kakak harum hutan terima kasih ya semangat yang disalurkan tuk Livia Cs…..

  2. prih berkata:

    Livia, Sugi dan Yoan, sajian esai cerdas memukau….. Selamat terus berkarya. Sila tanggapi komentar dari pembaca karya Anda ya. Salam

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s