Indonesia, Ibarat Era Dinasti yang Kehilangan Putra Mahkota Bahkan Wilayah Kekuasaannya

Indonesia, Ibarat Era Dinasti yang Kehilangan Putra Mahkota Bahkan Wilayah Kekuasaannya

 Benny Arliston Pasaribu, Andryai Kristiningrum, dan Agus M. Alwi

Istana penuh bunga

Istana penuh bunga

Sebuah kerajaan yang dulu pernah berjaya, namun kini diambang kehancuran karena berkurangnya generasi penerus dari tahun ke tahun. Jika demikian, apakah dinasti tersebut akan tetap berjaya tanpa adanya putra mahkota? Atau tetap berjalan dengan sisa kekuatan yang ada sebari menghitung hari sampai saat menjelang kehancuran itu tiba. Alangkah tragisnya sebuah bangsa agraria dengan rayuan pulau kelapa nan sangat subur tapi tiada yang memberdayakan. Selain itu mengenai masalah wilayah atau areal lahan budidaya yang semakin menurun tiap tahun. Situasi kritis ibarat peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga”, sama halnya dengan kondisi sekarang ini, sudah menurunnya generasi penerus yang bergelut di sektor pertanian ditambah pula menurunnya areal lahan.  Hal ini bisa membuat pernyataan “Indonesia adalah Negara yang melimpah ruah air, namun Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor air terbesar di Dunia”. Impor air disini dalam bentuk kadar air yang terkandung lewat produk-produk pertanian dan perternakan impor dari Negara lain. Susah payah menimbun emas, lambat laun akan ditukarnya hanya demi sekarung beras. Beberapa fakta dan data mengenai penyebab kemerosotan jumlah penerus di sektor pertanian akan kita gali selanjutnya diolah, dengan harapan bisa membuka pola pandang baru mengenai kondisi pertanian Indonesia.

Dari data ketenagakerjaan akhir tahun 2013, mengenai jumlah penduduk yang berkerja di sektor pertanian dalam sepuluh tahun ini berkurang 5,1 juta rumah tangga atau 16,32% dari tahun 2003. Bisa diibaratkan penurunan 1,75% tiap tahunnya. Kondisi yang cukup memprihatinkan ketika gencar mengenai progam “Kedaulatan Pangan Indonesia”, setelah melihat fakta sebelumnya mengenai jumlah petani di Indonesia. Peristiwa ini mirip di Jepang di era 1970-an, dimana generasi muda lebih tertarik ke sektor industri karena lebih memiliki tingkat gengsi yang tinggi dan kurang terkesan pekerjaan seorang rendahan. Hal tersebut sekarang terjadi di Indonesia, minat generasi muda terjun ke sektor industri semakin banyak. Adapun hal-hal yang mempengaruhi persepsi tersebut terangkum dalam uraian dibawah ini.

Pertama, rendahnya pengetahuan akan menariknya dunia pertanian. Ketika masih bayi kita sering ditimang oleh orang tua kita dengan cita-cita yang tinggi. Orang tua kita bilang saat menggendong sambil mengucapkan, “Anaku, kalau sudah besar nanti jadi dokter, pilot, TNI POLRI, dan wakil rakyat”. Sejak bayi saja sudah dituntut untuk tidak bekerja menjadi seorang petani dan itu akan mempengaruhi sampai kita dewasa. Hal ini kami temukan ketika mengikuti progam wawancara dengan petani di dusung Kedayon, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Kami mengetahui bahwa anak seorang petani menjadi pekerja pabrik, padahal bapaknya memiliki lahan sangat luas menjadi lahan tidur, karena tidak dirawat mengingat yang menjadi menggarap hanya kepala rumah tanggga. Cita-cita sebagai petani menurut kami adalah cita-cita yang mulia karena bekerja tanpa kenal lelah, menanti saat panen yang belum pasti, dan menjadi pahlawan pangan yang memberi kebutuhan makanan.

Kedua, petani adalah sebuah pekerjaan yang cukup melelahkan, bisa dibilang perkerjaan yang menggunakan otot. Sehingga, membuat pemuda melihat enggan untuk terjun menekuni bidang ini. Di dunia modern ini lebih tertarik pada sebuah perkerjaan yang tidak perlu menguras keringat, instan dan hasil yang banyak. Hal ini, berlainan dengan cara pertanian yang menuntut berkerja keras, sabar menanti panen dan hasil yang tidak bisa diprediksi. Jelas mengapa generasi muda melirik sektor lain yang memiliki nilai gengsi dan hasil instan. Padahal bekerja di pertanian seburuk itu, kita bisa ketahui orang yang bekerja dibidang ahli agribisnis maupun budidaya. Mereka bekerja mengedepankan analisa, data lapangan, dan lebih ringan.

Ketiga, mengenai jaminan hidup yang layak. Kebanyakan para petani memiliki latar belakang pendidikan yang hanya lulusan SD dan SMP, hal ini membuat  masalah semakin kompleks mengenai mencukupi kebutuhan dasar hidup. Seperti kita tahu  para petani untuk menghidupi keluarganya sehari-harinya kadang harus meminjam uang dan berharap bisa melunasinya ketika panen. Tempat tinggal yang bisa dibilang sedehana dengan perabotan seadanya. Mayoritas mereka hanya bermodal pendidikan maksimal sampai SMP, selain menggantungkan pekerjaan sebagai petani sebari menunggu hasil panen, mereka memilih untuk menjadi kuli bangunan dan kuli pasar. Hal ini terjadi nyata di desa Banyubiru, Kabupaten Semarang dimana petani untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari setelah musim tanam, mereka menjadi kuli bangunan dan kuli panggul di Pasar, walau berpenghasilan  rata-rata  40 ribu rupiah per hari, setidaknya cukup untuk menyambung asa mencukupi kebutuhan.

Jabaran di atas menunjukkan kisah tragis kemerosotan sebuah dinasti yang berduka atas kehilangan putra mahkota yang kita pahami sebagai generasi penerus pertanian serta berkurangnya wilayah kekuasaan. Jika sebuah Kerajaan menghadapi masa kritis seperti ini dengan dua masalah besar bisa dipastikan tidak lama kemudian akan menghadapi kehancuran. Wilayah kekuasaan mulai menyempit dikarenakan dijajah oleh situasi baik dari dalam kerajaan maupun luar kerajaan. Berkurangnya lahan budidaya tanaman berimbas pada merosotnya hasil tanam.

Dalam kerajaan tersebut petani mulai enggan menggarap lahan. Berbagai fakta timbul mengenai hal tersebut, ketika petani yang semakin tua dan tidak punya penerus yang akan mengolah lahan kepunyaan maka lahan tersebut dijual. Pun demikian masalah pencukupan kebutuhan hidup yang kian hari kian besar. Lahan petani sering dijadikan sebagai alternatif untuk dijual dengan alasan membeli kendaraan, untuk biaya pendidikan anaknya dan yang paling parah apabila ketika surat tanah digadaikan malah tidak bisa untuk menebusnya.

Serangan terparah yaitu dari luar kerajaan. Tawaran lahan-lahan pertanian yang berada di daerah perdesaan dengan pemandangan pegunungan maupun pinggiran kota mulai dilirik penjajah untuk dibeli dengan harga yang sangat tinggi untuk dijadikan vila, perumahan, dan jalan raya. Terlihat menjamur ketika kita pergi berwisata daerah pegunungan banyak dijumpai vila. Hal ini dapat kita lihat pula di pinggiran kota Salatiga ramai dibangunnya perumahan, dan jalan raya atau jalan alternatif. Faktor lain, yang membuat petani segera menjual lahan mereka adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman. Masalah ini membuat petani kehilangan sebagian besar hasil panen dan membuat efek jera terhadap budidaya sehingga niat menjual lahan menjadi besar. Setelah dijual, mereka membuka usaha lain seperti usaha warung maupun kerja di pabrik.

Kerajaan ini membutuhkan pahlawan yaitu kesatria berkuda dengan pedang bermata dua yang sangat tajam. Situasi ini layaknya Dinasti yang membuka sayembara untuk seorang Kesatria mengembalikan wilayah kekuasaan dan menemukan Sang Pewaris Tahta kembali ke Kerajaan. Kesatria yang dimaksud adalah generasi yang peduli akan masa depan pertanian Indonesia. Seorang pemuda yang mulai ahli-ahli di berbagai sektor pertanian baik di bidang teknologi, manajemen lahan, budidaya pertanian, dan agribisnis. Berkuda dalam arti sebuah kendaraan atau sarana yang membawa kita untuk mewujudkannya tujuan membangun pertanian Indonesia, seperti: masuk dalam pembuat kebijakan pertanian, menjadi penyuluh pertanian, dan membuat gabungan kelompok tani. Berbagai solusi pemaksimalan lahan dengan metode vertikultur, hidroponik, dan budidaya lahan miring. Terakhir sebuah senjata pedang bermata dua yang sangat tajam yang bisa melawan penjajah yaitu sebuah alat atau tindakan berani berkecimbung dalam dunia pertanian dengan segala resiko. Pedang bermata dua sangat beresiko kalau tidak menyakiti maka kesatria itu akan terluka oleh ketajamannya. Mengembalikan minat akan pentingnya pembangunan pertanian Indonesia untuk menyelamatkan anak bangsa dari krisis produk impor hasil pertanian dan menjadi Negara agaria yang berdaulat pangan.

Semua hal besar dalam sebuah perubahan, selalu dimulai dari melakukan sebuah tindakan kecil dan terus bertekun sehingga menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengaharapan. Karena tidak ada kata terlambat untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Catatan:

Selamat ya Benny, Andry dan Agus….tetap menulis dan menulis. Sila direspon tanggapan para sahabat melalui komentar ini. Andalah pemilik postingan ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pengelolaan Lahan, Penulis Tamu, Seri Kiprah dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Indonesia, Ibarat Era Dinasti yang Kehilangan Putra Mahkota Bahkan Wilayah Kekuasaannya

  1. harumhutan berkata:

    bravo buat adik adik Benny, Andry dan Agus ..! 🙂
    smoga semangat kalian menular pada generasi muda lainnya untuk tidak ragu menjadi petani yang tangguh sebagaimana negri ini adalah agraria dengan kesuburan yang luar biasa,sehingga indonesia tak perlu lagi mengimpor beras,bawang,cabai,gula,bahkan garam..miris..!

    dulu indonesia pernah berjaya dengan pertanianya,bersama kalian harapan itu tetap ada, bahwa kejayaan era pertanian akan kembali direngkuh,lets do it 🙂

    Kakak Harum hutan, terima kasih ya semangat dikipaskan pada adik-adik, semoga teruna kebun mewarisi ketangguhan juang kakak….sementara mewakili Benny Cs menjura…

  2. prih berkata:

    Benny, Andry, Agus sang putra mahkota dinasti flora, selamat ya dan terus belajar berkarya. Mari sila respon tanggapan dari pembaca ya. Salam

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s