Menelitik Sayur Organik, Tren Asyik Menyehatkan Diri

Menelitik Sayur Organik, Tren Asyik Menyehatkan Diri

Shofyan Adi Cahyono, Muhammad Johan Sudanta Wijaya, Rafi Lutfi Hermawan

??????????Sayuran organik mulai diminati masyarakat, terutama masyarakat yang sudah mengerti akan kesehatan. Mereka menghendaki produk sayuran yang sehat, aman dikonsumsi dan mutunya baik. Semakin tingginya kesadaran masyarakat Indonesia akan kebutuhan hidup sehat, sayur organikpun sejalan dengan hal tersebut. Sayur organik mulai diminati, semakin berkembang, bahkan menjadi trend diera globalisasi ini. Munculnya berbagai penyakit baru juga menjadi alasan untuk memicu berbagai produksi bahan makanan kembali menggunakan proses alami atau ‘back to nature’. Kebutuhan konsumen akan sesuatu yang alami, mendorong para pelaku bisnis mencari alternative produk dengan konsep bahan alami. Salah satu yang berkembang saat ini adalah budidaya sayuran organik.

Jepang merupakan salah satu negara termaju di asia yang menerapkan konsep budidaya sayuran organik sejak tahun 90an. Moto chisan chisou yang artinya produksi lokal dan konsumsi lokal, mendorong Jepang untuk senantiasa meningkatkan hasil pertaniannya dan imbasnya Jepang sekarang menjadi produsen terbesar yang memproduksi sayuran organik. Sebagai Negara Indonesia yang mempunyai lahan dan letak geografis yang strategis serta subur, kita sepatutnya mencontoh budaya yang diajarkan jepang, tentang sayuran organik.

Sistem pertanian organik didefinisikan sebagai “kegiatan usaha tani secara menyeluruh sejak proses produksi (prapanen) sampai proses pengolahan hasil (pasca-panen) yang bersifat ramah lingkungan dan dikelola secara alami (tanpa penggunaan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetika), sehingga menghasilkan produk yang sehat dan bergizi” (SNI No.01-6729- 2002).  Dalam prinsipnya, Budidaya tanaman organik dilaksanakan di lahan yang bebas dari pencemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida, menggunakan benih/bibit non-GMO (Genetically Modified Organism) dan berasal dari kebun pertanian organik. Upaya peningkatan kesuburan tanah dan pemenuhan nutrisi/ha tanaman dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legum. Pengendalian hama, penyakit dan gulma dilakukan secara manual atau biopestisida/ pestisida nabati (Pesnab) dan agensia hayati.

Budidaya sayuran organik sudah mulai berkembang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, dengan komoditas sayuran yang sangat beragam. Antara lain bayam, kangkung, kubis, buncis, wortel, cabai, tomat, sawi, slada, daun  bawang, dan lain-lain. Namun produksinya belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat baik secara kuantitas, kualitas, maupun kontinuitasnya.

Dalam upaya pengembangan budidaya sayuran yang aman dikonsumsi, bermutu baik dan ramah lingkungan perlu diterapkan teknologi budidaya yang tepat untuk mendapatkan hasil yang optimal. Oleh karena itu diperlukan suatu standar budidaya yang harus diikuti oleh produsen dan pelaku agribisnis sayuran organik. Adapun standar budidaya sayuran organik yang digunakan tergantung kepada tindakan budidaya yang sudah biasa digunakan oleh petani setempat dengan tetap mengacu kepada prinsip-prinsip GAP (Good Agriculture Practices) atau budidaya yang baik dan benar.

Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Sayuran Organik meliputi pemilihan lokasi, pemetaan lahan, konversi lahan, pembuatan pupuk organik, penyiapan lahan, penyiapan benih, pembibitan, penanaman, pemupukan,  penyiraman, pengendalian hama penyakit, pemanenan sampai penanganan pasca panen dan pengemasan. Dalam memilih dan menentukan lokasi tanam harus sesuai dengan persyaratan tumbuh jenis sayuran organik yang akan ditanam dan yang penting dalam penentuan lokasi adalah lahan harus bebas dari cemaran limbah beracun dan berbahaya.Pemetaan lahan menggambarkan batas-batas antara lahan-lahan konvensional dan lahanorganik. Dalam satu wilayah pertanian organik, apabila terdapat lahan konvensional maka harus dibuat pembatas tanaman (barrier tanaman) yang jelas seperti penggunaan rumput gajah

Konversi lahan adalah proses perubahan suatu sistem pertanian dari konvensional menjadi pertanian organik. Tujuannya agar lahan yang dikonversi dapat digunakan untuk budidaya sayuran organik. Jangka waktu konversi tergantung kondisi lahan. Umumnya lahan bekas pertanian konvensional harus mengalami periode konversi paling sedikit 2 (dua) tahun sebelum penebaran benih, atau untuk tanaman tahunan minimal 3 (tiga) tahun sebelum panen pertama produk organik. Kecuali ditentukan oleh lembaga sertifikasi organik.

Pembuatan pupuk organik merupakan kegiatan dekomposisi pupuk kandang  dan bahan alami lainnya dengan tujuan menghasilkan pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah di lahan pertanaman sayuran organik. Pupuk organik diupayakan berasal dari pertanian organik, pupuk kandang dan bahan alami lainnya bukan berasal dari factory farming/peternakan yang menggunakan hormon dan antibiotik sintetis. Pupuk organik yang dihasilkan disimpan di tempat yang bersih, aman, kering, terlindung, serta terpisah dari benih, hasil tanaman, dan bahan-bahan pengendali OPT.

Kegiatan pengolahan tanah berfungsi agar struktur tanah menjadi baik sehingga tanah menjadi gembur, aerasi dan drainase lebih baik, serta membentuk bedengan sebagai tempat tumbuhnya tanaman sayuran organik, kondisi lahan dapat ditanami sesuai persyaratan tumbuh tanaman.

Dalam penyediaan benih, benih bermutu dipilih dari dari varietas yang unggul dan sehat, dengan tujuan mampu berproduksi sesuai dengan keunggulan varietas, sehat, dan mempunyai daya adaptasi yang baik. Teknik penanaman bibit yaitu dengan menebarkan bibit di tempat/bedengan penyemaian (kecuali daun bawang, wortel dan lobak) untuk menumbuhkan tanaman dari biji hingga siap dipindah tanam ke lahan. Setelah benih telah menjadi bibit dan siap untuk ditanam, bibit dipindahkan ke areal pertanaman untuk menumbuh kembangkan tanaman sampai siap dipanen.

Pemberian unsur hara tambahan atau susulan pada tanaman berfungsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman dan untuk manjamin pertumbuhan tanaman secara optimal sehingga menghasilkan tanaman dengan mutu yang baik. Selain itu pemberian air sesuai kebutuhan tanaman pada daerah perakaran dengan air harus memenuhi standar pada waktu, cara, dan jumlah yang tepat untuk menjamin kebutuhan air bagi tanaman sehingga pertumbuhan dan proses produksinya berjalan optimal.

Kendala yang menjadi momok bagi petani sayur organik dan sering kali mengancam dan menggagalkan para petani untuk meraup nilai ekonomis dari sayur organik adalah serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman). Tindakan preventif Pengendalian Hama Terpadu (PHT) untuk mencegah kerugian ekonomi berupa kehilangan hasil (kuantitas) dan penurunan mutu (kualitas) produk adalah sebagai berikut.  Melakukan pengamatan secara rutin pada kondisi pertanaman. mengutamakan pengendalian secara mekanis dan kultur teknis (tanaman yang terserang hama/penyakit dicabut dengan tangan atau pisau, dibuang dan dibakar atau dikubur sejauh mungkin dari lokasi kebun). Melakukan  prosedur pengendalian dengan cara penyemprotan pestisida nabati secara selektif apabila tanaman terserang hama atau penyakit. Namun penyemprotan harus dihentikan minimal 2 minggu sebelum sayur dipanen, agar sayur steril dari bahan tambahan.

Setelah para petani berjuang keras dalam menumbuh kembangkan tanaman sayur organik   tibalah saat yang dinanti-nanti yaitu panen dan pasca panen sampai pengepakan. Kegiatan memetik/memanen sayur yang telah siap panen disesuaikan dengan persyaratan yang telah ditentukan untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan persyaratan yang diminta pasar. Kegiatan sortasi, pengkelasan, pengemasan dan penyimpanan sayur berdasarkan ukuran dan standar mutu yang telah ditentukan untuk menghasilkan sayur dengan standar mutu yang baik dan seragam.

Itulah prosedur singkat tentang sayur organik yang ditinjau dari aspek budidayanya, memang dalam budidayanya, sayur organik berbeda dengan konvensional. Sayur organik dituntut untuk mengikuti prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh badan sertifikasi pangan organik agar kualitas, kesehatan dan mutu sayur tetap terjaga.

Namun tak terlepas dari hal itu ada sebuah wacana dari masyarakat luas yang terlanjur mendarah daging dan mengganjal sayur organik untuk lebih berkembang. Menurut masyarakat sayur organik sudah identik dengan harga yang mahal, sehingga hanya kalangan menengah keataslah yang mampu mengkonsumsinya.

Padahal pernyataan itu salah kaprah, karena dalam segi perawatannya sayur organik hanya diberi pupuk yang berasal dari alam dan sering kali petani berupaya menekan biaya produksi dengan membuat pupuk sendiri. Sehingga bila dilihat dari segi budidayanya, biaya produksi sayur organik akan lebih rendah dari sayur konvensional (non-organik). Karena tak jarang untuk sayur non-organik petani membayar mahal penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang dianggapnya lebih manjur dan ampuh daripupuk  yang hanya berasal dari alam.

Mengapa sayur organik dianggap mahal, itu karena kebanyakan konsumen membeli produk organik terutama sayur organik di supermarket dan pasar swalayan-swalayan besar. Padahal jika dilihat dari segi perputaran ekonomi mulai dari produsen hingga konsumen, sayur organik yang dijual disupermarket sudah melewati banyak tangan. Petani sebagai produsen menjual hasil sayurnya kepada tengkulak/ pengepul, pengepul menjual sayur ke suplaiyer, suplaiyer menjual kesupermarket, barulah sayur organik berada pada konsumen. Hal inilah yang membuat sayur organik menjadi mahal karena semakin banyak tangan biayanya juga akan bertamabah terutama pada biaya transportasi.

Tak hanya itu, komponen yang ikut serta menyebabkan  tingginya harga sayur organik adalah biaya packing, pelabelan, barcode, sewa tempat serta pajak untuk negara. Maka konsumen yang ingin menikmati sayur organik dengan harga terjangkau hendaknya membeli sayur organik dengan datang langsung kepada petani karena bukan hanya harga yang bisa lebih murah, dengan datang langsung konsumen juga akan mendapat sayur yang masih dalam kondisi segar, serta tak jarang konsumen akan diberi bonus tambahan ilmu pengetahuan dari petani yang tak enggan untuk membagikan ilmunya.

Catatan:

Selamat ya Shofyan, Johan, Rafi ….tetap menulis dan menulis. Sila direspon tanggapan para sahabat melalui komentar ini. Andalah pemilik postingan ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Pengelolaan Lahan, Penulis Tamu, Seri Kiprah dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Menelitik Sayur Organik, Tren Asyik Menyehatkan Diri

  1. harumhutan berkata:

    tapi memang benar sayuran organik ini sayangnya hanya dikonsumsi oleh orang2 menengah keatas saja..

    seandainya smua lapisan masyarakat bisa menikmatinya maka akan lebih mengena lagi…

    smoga semakin banyak shofyan,johan dan rafi2 muda yang lain yang pedulid engan sayuran organik sehingga smua lapisan masyarakat bisa menjangkaunya 🙂

    Terima kasih Kakak Harum hutan, semoga Shofyan dkk. semakin bersemangat memasyarakatkan sayuran organik. Salam

  2. prih berkata:

    Shofyan, Johan dan Rafi….terima kasih ya pengalaman Anda selaku pebisnis sayuran organik sangat mewarnai tulisan Anda. Terima kasih ya berbagi pengalaman. Terus berkarya dan berbagi melalui tulisan. Salam

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s