Kearifan lingkungan masyarakat Gunung Kidul mengelola sumber daya air

Kearifan lingkungan masyarakat Gunung Kidul mengelola sumber daya air

Oleh: MUHAMAD SYAHRUL AFI LATIF

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Menampung air hujan

Menampung air hujan

Air merupakan unsur terpenting dalam kehidupan, hampir semua makhluk  hidup yang ada di permukaan bumi ini membutuhkan air untuk keberlangsungan kehidupannya. Dalam kehidupan sehari-hari air digunakan untuk berbagai aktivitas seperti, minum, mencuci, mengairi tanaman budidaya bahkan untuk pembangkit listrik. Untuk itu sangat penting memperhatikan ketersediaan air dalam suatu daerah, khususnya daerah yang sering mengalami permasalahan ketersediaan air.

Kabupaten Gunung Kidul merupakan sebuah wilayah yang secara administratif termasuk dalam Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografi wilayah Gunung Kidul didominasi oleh pegunungan kapur (karst) yang memiliki keunikannya tersendiri, menurut Soerono (2008), kawasan karst merupakan kawasan batuan karbonat yang umumnya mengandung CaCO3 dan mudah mengalami pelarutan karena adanya reaksi kimia dengan air hujan yang bersifat asam. Keberadaan air di daerah ini menjadi kendala tersendiri bagi masyarakat, karena sebagian besar air yang ada terinfiltrasi dan terkumpul dalam sungai/danau bawah tanah, sedangkan tidak sedikit sungai yang berada diatas permukaan tanah hanya mengalir disaat musim penghujan.

Dengan kondisi alam dan segala kendala yang ada di wilayah Gunung Kidul, ternyata menciptakan suatu perilaku masyarakatnya yang secara bijaksana melestarikan lingkungannya demi mendapatkan kebutuhan mereka akan air. Upaya masyarakat untuk menjaga air diwujudkan dalam aturan aturan adat yang secara umum bertujuan agar tercipta kelestarian lingkungan, sehingga masyarakat mampu memanfaatkan sumber daya alam (khususnya air) di wilayah tempat tinggal mereka.

Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang dikembangkan oleh masyarakat untuk mensiasati keadaan lingkungan di sekitar tempat tinggal meraka. Pengetahuan tersebut diyakini memiliki dampak yang positif bagi lingkungan serta kehidupan masyarakatnya, sehingga akan terus di terapkan dan diajarkan oleh masyarakat ke generasi berikutnya (Kusumawardana, 2014).

Tujuan

  1. Mengetahui kearifan lokal yang terdapat di lingkungan masyarakat Gunung Kidul.
  2. Mengetahui manfaat yang didapatkan dari kearifan lokal masyarakat Gunung Kidul.

 PEMBAHASAN

  1. Kearifan lokal di Gunung Kidul

Dengan kondisi alam yang berupa perbukitan batu gamping (karst), masyarakat berupaya untuk menyesuaikan dan mensiasati lingkungan tersebut, sehingga mereka mampu melangsungkan kehidupannya. Salah satu kebutuhan dasar yang keberadaannya cukup sulit diperoleh di daerah Gunung Kidul adalah air yang digunakan oleh masyarakat dalam berbagai keperluan rumah tangga hingga kegiatan pertanian.  Bentuk kearifan lokal yang dilakukan masyarakat untuk menjaga ketersediaan air adalah lahirnya cerita/mitos seperti dikeramatkanya tumbuhan serta telaga yang menjadi sumber air yang sebenarnya bertujuan untuk melestarikan lingkungan. Kegiatan masyarakat di Gunung Kidul tersebut dapat dikatakan sebagai suatu kearifan lokal, karena sifatnya yang secara spesifik hanya dapat diterapkan di wilayah tersebut dan belum tentu sesuai bila dilaksanakan di daerah lain.

2. Pengaruh kearifan lokal terhadap lingkungan

Kegiatan yang telah dilakukan oleh masyarakat di Gunung Kidul secara tidak langsung akan berdampak terhadap lingkungan alamnya. Bentuk kearifan lokal masyarakat dengan melaksanakan perawatan dan penjagaan terhadap sumber air seperti telaga, meskipun aturan yang terkesan mistik dengan mengeramatkan pohon serta telaga tesebut. Namun dengan aturan tersebut sebenarnya masyarakat telah  berperan dalam menjaga pasokan air, terutama di daerah telaga yang akan sangat bermanfaat terutama saat musim kemarau (Guntarto, 2003).

Perilaku masyarakat dalam menjaga tumbuhan dan sumber air memiliki pengaruh positif terhadap ketersediaan air, terutama di musim kemarau. Menurut Sulastriyono (2009), terdapat pengaruh yang sangat terlihat pada telaga yang masih alami yakni telaga Omang kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul dengan banyak tumbuhan di sekitar telaga, menjadikan telaga tetap memiliki air meskipun di musim kemarau. Hal yang cukup berbeda terlihat di daerah telaga Ngloro yang sudah tidak memiliki pepohonan disekitarnya menjadi kering saat musim kemarau tiba. Fenomena yang terjadi di dua wilayah tersebut dikarenakan tumbuhan memiliki fungsi yang penting dalam menjaga ketersediaan air, terutama di kawasan karst saat musim kemarau. Hal tersebut dikarenakan, tumbuhan akan berperan dalam menyimpan air permukaan serta berfungsi sebagai spon untuk cadangan air permukaan  yang langka ketersediaannya (Faida dan Wianti, 2012).

Berbagai aktifitas kearifan lokal seperti yang dilakukan di Gunung Kidul telah berperan dalam pengelolaan sumberdaya alam serta lingkungannya (Suhartini 2009, dalam Qandhi, 2012).

3. Pengaruh kearifan lokal terhadap kondisi ekonomi masyarakat

Salah satu pilar dari pertanian berkelanjutan kaitannya dengan kearifan lokal adalah dapat berlangsung secara ekonomis, yang mengandung pengertian bahwa petani mampu mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya, sesuai dengan tenaga serta biaya yang telah dikeluarkan tanpa harus menimbulkan kerusakan alam (Aritonang, 2013).

Bentuk kearifan lokal yang dilakukan masyarakat Gunung Kidul dengan memanfaatkan sumberdaya alam (khususnya air) yang ada disekitarnya, akan mengurangi biaya bila dibandingkan harus mendatangkan input dari daerah lain. Hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kearifan lokal itu sendiri, karena dengan biaya yang rendah maka penghasilan yang diperoleh petani dapat digunakan untuk keperluan yang lain. Akhirnya kearifan lokal tersebut akan terus berkembang dan terus dilaksanakan oleh masyarakat.

4. Pengaruh kearifan lokal terhadap sosial dan budaya masyarakat

Masyarakat yang telah melaksanakan kearifan lokal secara terus menerus akan menghasilkan suatu kebudayaan yang dapat diterima oleh lingkungan dan masyarakatnya. Menurut Suryatmojo (2006), kawasan karst berpotensi menimbulkan masalah sosial apabila tidak ditangani dengan benar, karena merupakan daerah yang kritis dan terbatas sumberdayanya. Hal tersebut mampu dihadapi oleh masyarakat melalui budaya mereka yang cukup bijak dalam mengelola lingkungan tempat tinggal mereka.

KESIMPULAN

  1. Masyarakat Gunung Kidul telah menerapkan budaya yang ramah terhadap lingkungan dan selaras dengan alam, melalui perawatan dan penjagaan telaga sumber air melalui pengeramatan tempat tempat tersebut. Aktifitas tersebut menjadi sebuah kearifan lokal yang berkembang di wilayah Gunung Kidul.
  2. Kearifan lokal yang diterapkan masyarakat di Gunung Kidul telah memberikan manfaat bagi masyarakat terutama dalam mendapatkan air untuk keperluan kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, I. 2013. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. http://indaharitonangfakultaspertanianunpad.blogspot.co.id/2013/05/pembangunanpertanianberkelajutan.html. Diakses tanggal 10/12/2015.

Faida., L., R., W., dan Wianti., K., F. 2012. Etnoforestri Kawasan Karst Gunung Sewu Sebagai Pijakan Strategi Konservasi Kehati di Lahan Milik (Private Conservation Area). Seminar Nasional Agroforestri III, 29 Mei 2012.

Guntarto, 2003. Arahan Geologi Lingkungan Untuk Tata Guna Lahan Kawasan Kars Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Buletin Geologi Tata Lingkungan Vol. 13 No. 2. September. 2003: 101-109.

Kusumawardana., A. 2014. Pengertian Kearifan Lokal. http://ariefksmwrdn.blogspot.co.id/2014/06/pengertian-kearifan-lokal.html. Diakses tanggal 11/12/2015.

Soerono. 2008. Kawasan Karst di Gunung Kidul dan Kearifan Lokal. http://penataanruang.pu.go.id/bulletin/index.asp?mod=_fullart&idart=153. Diakses tanggal 11/12/2015.

Sulastriyono. 2009. Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Air di Telaga Omang dan Ngloro Kecamatan Saptosari, Gunung Kidul Yogyakarta. Mimbar Hukum Volume 21, Nomor 2, Juni 2009, Halaman 203-408.

Suryatmojo. 2006. Strategi Pengelolaan Ekosistem Karst di Kabuaten Gunung Kidul. Staff Pengajar di Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan UGM.

Qandhi., F., F. 2012. Pentingnya Kearifan Lokal Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan di Pedesaan. http://fika-fatia.blogspot.co.id/2012/05/pentingnyakearifanlokal-masyarakat_07.html. Diakses tanggal 11/12/2015.

Catatan: Postingan ini adalah karya penulis tamu

Terima kasih ya Syahrul, kita sudah dan selalu akan belajar bersama….tetap belajar melalui membaca dan menulis. Sila direspon tanggapan para sahabat melalui komentar ini. Andalah pemilik postingan ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Lingkungan Hidup, Pengelolaan Lahan, Penulis Tamu, Seri PKL dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kearifan lingkungan masyarakat Gunung Kidul mengelola sumber daya air

  1. Ping balik: Belajar Bersama tentang Kearifan Lokal dan Pertanian Berkelanjutan | Berguru pada Alam

Terimakasih, pendapat Anda sangat berharga.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s