Belajar Menulis Buku

Belajar Menulis Buku

pesona-gerbera-tiga-warna

Judul buku: Pesona Gerbera Tiga Warna • Penulis: Suprihati  • Penerbit: Griya Media (Salatiga, November 2013) • Tebal: 100 halaman • 14 cm x 21 cm

……….. Kehidupan kebon keseharian kitapun tidak jauh berbeda dengan rumpun gerbera tersebut. Ada perbedaan corak, gaya yang saling dipadukan. Dalam rumpun paling kecil di rumpun keluarga, ada aneka gaya dari pasangan orang tua maupun para anak. Janji dua pribadi menyatupun tak bermakna menyatukan gaya dan ekspresi. Para anakpun bukan duplikat dari pribadi orang tuanya, mereka adalah pribadi unik yang sedang berkembang. Adakalanya keharmonisan relasi terusik, sentuhan warna kuning dan pink saling bertabrakan. Dengan belajar dari keharmonisan gerbera tiga warna, rumpun keluarga kitapun dapat memancarkan keindahan……………….

*******

Belajar Dari Sang Gunung

Judul buku: Belajar Dari Sang Gunung • Penulis: Suprihati dkk. • Penerbit: Griya Media (Salatiga, Juni 2014) • Tebal: 114 halaman • 17 cm x 24 cm

Gunung merupakan bagian integral dari alam kehidupan masyarakat. Gunung memberikan diri sebagai sumber materi sarana kehidupan secara langsung maupun pembelajaran filosofi tatanan kehidupan. Belajar pada Sang Gunung, belajar dari dan tentang gunung sebagai sumber kehidupan. Buku ini merupakan hasil pendekatan kajian Budidaya Pertanian berbasis Pengetahuan dan Kearifan Lokal pada Daerah Pegunungan. Untuk mempermudah pemahaman, buku ini dibagi menjadi 3 bagian: Bagian 1 Belajar dari Sang Gunung; Bagian 2 Gunung, Bencana dan Perubahan Iklim dan Bagian 3 Budidaya Pertanian di Pegunungan Berbasis Kearifan Lokal.

*******

Sekolah Iklim Petani

Judul buku: Sekolah Iklim Petani • Penulis: Suprihati dkk. • Penerbit: Satya Wacana University Press (Salatiga, Juni 2015) • Tebal: 126 halaman • 16 cm x 23 cm

Kegiatan budidaya tanaman pada dasarnya proses memanen energi surya melalui sejumlah proses yang berlangsung di pabrik yang bernama tanaman. Begitu bibit ditanam sejumlah faktor berinteraksi yaitu faktor individu bibit, tanah dan iklim. Faktor iklim merupakan faktor yang relatif sulit dikelola bersifat ‘given’ anugerah yang tiada terkira. Perubahan iklim global yang terjadi saat ini tidak akan membuat petani meratap dan berhenti bertani. Secara arif dan cerdas petani mempersiapkan diri memahami karakter sumberdaya iklim dan optimalisasinya dalam budi daya melalui pengelolaan OPT, pemanfaatan materi lokal semisal Tithonia diversifolia yang ada dengan tetap memperhatikan hasil analisis tanah secara praktis. Petani sangat menyadari bahwa perubahan iklim berdampak kepada produktivitas, kualitas hasil tanaman yang berujung pada pendapatan mereka. Selalu ada disguise blessing (berkah tersembunyi) dari setiap kejadian. Mengantisipasi perubahan iklim, petani memadukan pengetahuan dan kearifan lokal pranata mangsa dengan peramalan iklim dan cuaca berbasis teknologi informasi. Secara kultur sosial  petani belajar mengenal masalah dan risiko pertanian terkait iklim dan membuat program antisipasi di tingkat kelompok tani. Yah petani melakukan Sekolah Lapang Iklim (SLI), menterjemahkan informasi  prakiraan  iklim  untuk  menyusun  strategi  budi  daya  lebih tepat.

Bertani itu melukis bersama alam, kadang  sambil menari atau menyanyi, tak jarang harus gigit jari (puisi tukang kebun).

*******

Gendhuk Limbuk

Judul buku: Gendhuk Limbuk (Belajar Kearifan Lokal dari Lingkungan Sekitar) • Penulis: Suprihati • Penerbit: Sixmidad (Bogor, Agustus 2015) • Tebal: vi + 91 halaman• ISBN: 978-602-0997-13-1

Gendhuk Limbuk dijumpai di pewayangan Jawa. Berkedudukan khusus sebagai emban, dayang ataupun rewang alias abdi yang khusus membantu di kaputren (kaputrian). Namun sesungguhnya Gendhuk Limbuk bukan abdi yang disuruh-suruh melulu, kedudukannya mengandung unsur para panakawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang mendampingi klan Pandawa ataupun Togog Tejamantri pembisik kebenaran bagi klan Kurawa. Bila keluarga Semar dan Togog berada di jalur kasatriyan, Gendhuk Limbuk dan Simbok Cangik menggawangi jagad kaputren, keseimbangan gender yang dirakit elok oleh dunia pedalangan. Gendhuk Limbuk juga merupakan simbol keseharian, betapa setiap titah adalah Limbuk kehidupan, ada di setiap keaadaan. Selamat membaca buku ini Gendhuk Limbuk (Belajar Kearifan Lokal dari Lingkungan Sekitar). Semoga bermanfaat.

*******

Menyusul…..

Iklan